Kanal

UKM Dupak Bandarejo Populerkan Sejuta Khasiat Daun Katuk, Diolah Jadi Camilan hingga Brownies

Diah Oktavia (kiri) dan Beny Aria menunjukkan produk hasil olahan daun katuk. Mereka mengolah daun katuk menjadi camilan lezat. - surya/delya octovie

Keduanya lalu mempromosikan hasil olahan katuk ke ibu-ibu PKK, posyandu, dan online di Facebook Kampung ASI RW III.

Ari konsentrasi di bidang minuman, sedangkan Diah di makanan.

Mereka menjual Sule Katuk dengan harga Rp 5.000 per botol, brownies Rp 25.000, bolu satu pak isi 6 Rp 10.000, dan keripik kemasan kecil Rp 5.000, besar Rp. 10.000. 

Respons yang didapat cukup baik. Selain testimoni soal rasa yang lezat, rasa daun katuk yang sangat samar, banyak pula yang mengklaim produksi ASI mereka makin lancar.

“Awalnya merasa kok aneh camilan berbahan dasar katuk. Tetapi akhirnya pada pesan lagi, lama-lama enak, bolunya katanya lembut, pengaruh ke ASI juga ada,” tutur ibu dua anak itu.

Pelanggan mereka Kepala Kelurahan Dupak Bandarejo, Indah Purwaningsih. Indah disebutnya sudah pernah mencicipi semua produknya.

Meski begitu, Indah tak menampik dirinya sempat ragu karena mengetahui bahan dasarnya dari daun katuk.

“Pertamanya aneh, kok makanan, minuman dari daun katuk? Tetapi nikmatnya sudah kelihatan. Khususnya Sule Katuk. Ternyata bisa ya katuk diolah begitu. Selain Sule, saya juga suka keripiknya,” ungkapnya.

Cara membuat camilan katuk sebenarnya cukup mudah.  Untuk Sule, katuk segar langsung diblender bersama kedelai.

Sedangkan jika digunakan pada brownies dan bolu, katuk dikeringkan dengan cara dijemur selama tiga hari, lalu diblender sampai halus.

Halaman
123
Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin

Gubernur Tampar Suporter PSMS Medan hingga Videonya Viral, Beri Penjelasan di Instagram

Berita Populer