Kanal

Duh, Razia Warung Remang-remang Dinsos Mojokerto Temukan Banyak Tisu dan Kondom

Petugas menunjukkan tisu-tisu bekas dan kondom yang mereka temukan saat razia di sebuah warung remang-remang, Rabu, 12 September 2018. - surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto bersama dengan TNI, Polisi, dan Satpol PP menggelar razia PSK di wilayah Dawarblandong dan Kemlagi, Rabu (12/9). 

Di daerah Kemlagi petugas langsung menyasar warung remang-remang. Pemilik warung sempat panik ketika didatangi petugas.

Warung tersebut diduga dijadikan tempat prostitusi karena pemiliknya menyediakan bilik-bilik kamar bambu untuk para pasangan.

Ketika petugas menyusuri, kamar-kamar tersebut dalam kondisi kosong.

Sebagian pintu kamar juga terkunci rapat. Petugas berusaha membuka paksa pintu itu lantaran pemilik enggan memberikan kuncinya. Di dalam kamar banyak tisu yang berserakan, bahkan petugas juga menemukan kondom. 

Petugas lalu melanjutkan ke lokasi berikutnya yang terletak tak jauh dari warung remang-remang itu. Lokasi ke dua petugas menyasar bangunan permanen yang diduga dijadikan tempat prostitusi. Di sana, petugas menemukan seorang perempuan yang diduga pekerja seks.

Wanita tersebut sempat mengelak ketika hendak di bawa petugas. Selain itu, ia juga tak membawa kartu identitas.

"Jangan pak, jangan saya tidak melakukan apa-apa," kilahnya.

Di tempat lain, yakni di wilayah Dawarblandong, petugas berhasil mengamankan dua orang yang diduga PSK.

Mereka tertangkap basah sedang menunggu seorang pelanggan. Mereka pun tak bisa mengelak, petugas langsung membawanya ke kantor Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto Jalan RA. Basuni.

Setelah dimintai keterangan, hanya dua orang saja yang terbukti sebagai wanita panggilan. Kedua wanita itu N (37) dan E (50).

Saat diwawancara N dan E mengaku hanya main di lokasi razia dan telah menjadi wanita panggilan selama 2 tahun. "Saya tidak sering, cuman main saja di sini dan tidak janjian sama sapa-sapa," kata N.

N sudah memiliki satu orang anak, sedang E memiliki dua orang anak. Mereka terpaksa menjadi seorang wanita penghibur lantaran dihimpit ekonomi dan dililit hutang. Pekerjaan sebagai petani dirasa tak cukup membiayai kebutuhan sehari-hari.

"Saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar utang,'' ucap E dan N.

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca

Video Sel Asli Setya Novanto Diunggah Najwa Shihab, Nazaruddin Ikut Tepergok di Dalamnya

Berita Populer