Kanal

Setiap Hari Tulungagung Hasilkan 56 Ton Ikan Patin

Pekerja fillet patin di Dinas Perikanan Tulungagung. - surabaya.tribunnews.com/david yohanes

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Area kolam budidaya ikan patin di Tulungagung melonjak tajam dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya hanya lima hingga enam hektar, ini menjadi 60 hektar.

Menurut Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, Tatang Suhartono, dalam satu hari Kabupaten Tulungagung menghasilkan 56 ton ikan patin. Dari total produksi itu, 12 ton di antaranya diolah menjadi fillet (daging ikan tanpa tulang). Produksi patin fillet ini dilakukan di tempat produksi Dinas Perikanan, yang ada di bagian belakang kantor.

“Pabriknya ini dulu bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pengelolaannya diserahkan ke pihak ke-3,” tutur Tatang, Senin (10/9/2018).

Pabrik fillet ikan ini dikelola oleh PT Mina Perkasa dari Kecamatan Besuki. Perusahaan ini adalah yang ketiga yang mengelola pabrik ini. Pabrik ini mempekerjakan 74 orang, semuanya diambil dari warga sekitar.

“Perusahaan ini wajib menyetor PAD (pendapatan asli daerah, red) sesuai kerjasama yang sudah disepakati. Semuanya diatur melalui Peraturan Daerah,” tambah Tatang.

Baca: Penerimaan CPNS 2018, Kabupaten Tulungagung Buka 546 Lowongan, Ini Formasi yang Dibutuhkan

Baca: Kota Madiun Cuma Buka Lowongan CPNS Untuk 174 Orang Tahun ini

Baca: Kuota CPNS Gresik 2018 Hanya 475. Apa Formasi Paling Banyak Dicari?

Sebelumnya pabrik ini mempunyai kapasitas produksi hanya 4 ton per hari. Namun karena tingginya permintaan patin fillet, kapasitas produksi ditingkatkan menjadi 12 ton per hari. Kapasitas produksi ini masih mencapai kurang dari 60 persen dari total permintaan pasar.

Karena itu Tatang berusaha menggenjot produksi, agar bisa memenuhi seluruh permintaan patin fillet yang masuk. Sejauh ini mayoritas patin dari Tulungagung dikirim ke berbagai kota dalam keadaan hidup.

“Pasarnya sangat terbuka, kita hanya masih menyuplai untuk pasar lokal saja. Belum sampai ekspor,” terangnya.

Sebelumnya pasar patin dunia dikuasai oleh Vietnam, dengan merek ikan dori. Bahkan ikan dori pernah dijual di supermarket di Indonesia. Namun ikan dori ini ketahuan menggunakan pemutih, sehingga ditolak pasar dunia.

Masih menurut Tatang, ikan patin Tulungagung berkualitas tinggi. Sebab dagingnya putih dan tidak berbau tanah, sehingga peminatnya juga banyak. Selama ini para pembudidaya patin menggunakan sistem kemitraan, bekerja sama dengan pabrik.

“Sistem kemitraan ini menjamin harga jual saat panen, dan memastikan ketersediaan bahan baku. Karena pakan sepenuhnya disediakan pabrik, kemudian pabrik yang menerima hasilnya,” ungkap Tatang.

Harga break event point (BEP) atau harga impas ikan patin adalah Rp 11.000 per kilogram. Di awal kerja sama, pabrik telah mematok harga Rp 14.500 per kilogram. Sementara pengelola kemitraan yang mendampingi para pembudidaya, mematok harga jual ke pabrik Rp 15.500 per kilogram.

“Komposisi ikan patin itu 30 persen daging, dan 70 persen limbah termasuk kepala. Tapi limbahnya juga masih bisa dijual Rp 1500 hingga Rp 2000 per kilogram,” pungkas Tatang.

Seorang pekerja di pabrik pengolahan patin ini, Diana mengaku, setiap kilogram ikan patin yang difillet pekerja mendapatkan upah Rp 1500. Setiap hari seorang pekerja rata-rata bisa mengolah 100 kilogram patin. Sehingga rata-rata pendapatan per hari seorang pekerja Rp 150.000.

“Bahkan kadang bisa Rp 200.000 per hari. Lumayan untuk bantu-bantu keuangan di rumah,” ucapnya. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca

Video detik-detik Vicky Prasetyo Gerebek Angel Lelga sedang Selingkuh di Kamar Pukul 2 Dinihari

Berita Populer