Kanal

Mau Komunitas Awet? Ini Caranya!

- ist

Berbicara tentang dunia literasi menarik dan seperti tak ada habisnya. Keberadaan komunitas literasi tidak hanya menampung mereka yang menyukai dunia membaca dan menulis, tetapi juga memberi warna pada bidang seni lainnya.

Begitulah benang merah dalam sarasehan sastra bertajuk Membaca Peta dan Gerakan Literasi di Malang Raya dan Tapal Kuda. Dihelat di Kafe Pustaka, Perpustakaan Universitas Negeri Malang, acara yang diinisiasi Balai Bahasa Jawa Timur dan Komunitas Pelangi Sastra Malang itu menghadirkan Djoko Saryono (Guru Besar Universitas Negeri Malang), Mustakim (Kepala Balai Bahasa Jawa Timur), Mashuri (Sastrawan), dan Yusri Fajar (Sastrawan).

Di sesi pertama, Mustakim menyebut melalui Permendikbud 21 Tahun 2015 tentang gerakan literasi yang dikembangkan di sekolah untuk menumbuhkan budi pekerti anak. Dalam implementasinya, kegiatan literasi tidak hanya membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, tetapi juga dengan kegiatan menulis yang dilandasi kemampuan untuk mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali, dan sebagainya.

Karena itulah, Balai Bahasa Jawa Timur sangat mendukung upaya-upaya gerakan literasi baik di sekolah mau pun luar sekolah melalui komunitas-komunitas. Dukungan itu berupa pelatihan-pelatihan menulis dan memberikan penghargaan kepada pendidik dan pegiat literasi yang memiliki karya tulis berupa buku.

Djoko Saryono menyoroti perkembangan komunitas-komunitas sastra di Jawa Timur yang masing-masing memiliki ciri khas dalam gerakannya. Penulis buku puisi Kemelut Cinta Rahwana itu menyebut ada komunitas tulen yang khusus menekuri karya-karya sastra.

Akan tetapi, ada pula komunitas yang menggeluti sastra dan musik. Di sisi lain, ada pula komunitas yang concern pada isu-isu sosial di masyarakat dan memberikan respons melalui karya.

“Ruang lingkup keberadaan komunitas literasi juga berpengaruh pada karya-karya sastra yang dihasilkan. Penulis yang tumbuh di lingkungan pondok pesantren di Probolinggo, dalam karyanya sangat kental mengusung nuansa di tempat ia belajar,” lanjut Djoko.

Penulis buku Tafsir Kenthir Leo Kristi itu mengemukakan, sejauh ini komunitas-komunitas literasi yang tumbuh, berisikan orang-orang ”sekolahan”. Selain pelajar dan mahasiswa, juga para guru dan dosen yang sehari-hari memang berada di lingkungan pendidikan.

Berlangsung akrab dan santai, acara yang dimoderatori Denny membuat puluhan pegiat literasi dari Malang Raya, Gresik, Pasuruan, dan Probolinggo tetap setia. Selama tiga jam, mulai pukul 14.00–17.00 tidak ada yang beranjak dari duduknya.

Yusri Fajar yang berbicara di sesi ketiga membahas pentingnya motor penggerak dalam komunitas. Penulis kumpulan puisi Kepada Kamu yang Ditunggu Salju itu mengatakan, massa di dalam komunitas yang sangat cair. Itu sebabnya harus ada sosok yang mendedikasikan waktunya untuk menjaga roda aktivitas terus berjalan. Di Malang anggota komunitas literasi kebanyakan mahasiswa dari luar Malang.

”Kalau para aktivis literasi ini lulus kuliah, akan ada yang keluar dari Malang dan meninggalkan komunitasnya,” kata Yusri yang juga penulis kumpulan cerpen Surat dari Praha itu.

Stebby Julionatan dari Komunitas Menulis Probolinggo tampak menikmati materi. Menurutnya, sarasehan itu memberi wawasan baru untuk meneropong gerakan komunitas sekaligus cara menjaga keberlangsungannya.

Yeti Kartikasari
Pegiat literasi dan Pendidik
Tinggal di Pandaan, Pasuruan
ranselmbakyeye08@gmail.com

Editor: Endah Imawati

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer