Kanal

Konflik Perebutan Gunung Bolo di Tulungagung, Hakim Putuskan Gunung Bolo Kembali ke Rukun Sejati

Sidang sengketa Gunung Bolo di PN Tulungagung. - surabaya.tribunnews.com/david yohanes

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Majelis hakim Pengadilan Negeri Tulungagung akhirnya memutus perkara sengketa Gunung Bolo, antara Yayasan Rukun Sejati dengan pemerintah Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Rabu (5/9).

Majelis hakim yang diketuai Eko Aryanto memenangkan Hendra Gunawan selaku ketua Perkumpulan Rukun Sejati.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan, bukti kepemilikan berupa eigendom nomor 144 dan 145 sah dan mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dua eigendom itu adalah bukti kepemilikan yang dimiliki Rukun Sejati. Masing-masing untuk eigengom 44 mencakup luas tanah 54.060 meter persegi dan eigendom 145 mencakup luas tanah 44.570 meter persegi.

“Luas tanah yang dibacakan sesuai dengan dokumen yang dijadikan bukti. Tapi luas tanah nantinya sesuai hasil pengukuran,” terang Humas PN Tulungagung, Yuri Adriansyah.

Majelis hakim juga menyatakan, semua pihak yang memungut karcis kepada para peziarah di makam Gunung Bolo adalah perbuatan melawan hukum. Selain itu hakim memerintahkan kepada tergugat untuk menyerahkan obyek dalam keadaan kosong, bila perlu dengan bantuan alat negara.

Baca: DPRD Kota Malang Bedol Desa Ditahan KPK, KPU Baru Terima Satu Berkas PAW

Baca: Setelah Pensiun, Kapolda Jatim Isyaratkan Kesediaan Jadi Timses Capres 2019

Selain itu para tergugat dan ikut tergugat diperintahkan untuk menanggung biaya perkara sebesar Rp 4.546.000 secara tanggung renteng. Namun majelis hakim menolak tuntutan Rukun Sejati, terkait uang paksa dan ganti rugi.

“Selain itu usulan serta merta juga ditolak. Jadi obyek sengketa baru bisa dieksekusi jika sudah berkekuatan hukum tetap,” tegas Yuri.

Para tergugat mempunyai waktu selama 14 hari untuk pikir-pikir. Jika tidak mengajukan banding, maka keputusan pengadilan dinyatakan berkekuatan hukum tetap. Penggugat bisa mengajukan permintaan eksekusi.

Baca: Kasihan, Bayi Hydrosephalus di Sidoarjo Diabaikan Ibu, Tak Pernah Dirawat di RS

Konflik ini bermula saat Pokdarwis Bolowood menyulap area makam Gunung Bolo menjadi lokasi wisata.

Padahal area ini sudah sejak zaman Belanda dijadikan makam Tionghoa, di bawah Perkumpulan Rukun Sejati. Mereka mempunyai bukti izin pengelolaan lahan pemakaman ini dari pemerintah Hindia Belanda, berupa eigendom nomor 144 dan 145.

Pokdarwis Bolowood didukung pemerintah Desa Bolorejo memungut uang tiket kepada pengunjung area wisata baru ini. Termasuk kepada para peziarah, yang keluarganya dimakamkan di gunung ini. Perkumpulan Rukun Sejati menggugat, dan meminta kembali pengelokaan Gunung Bolo sepenuhnya.

Sebagai tergugat satu adalah Pemerintah Desa Bolorejo, dan tergugat dua Pokdarwis Bolowood. Sedangkan turut tergugat satu adalah Pemerintah Desa Wonokromo Kecamatan Gondang, turut tergugat dua Kantor Pertanahan Tulungagung dan turut tergugat tiga Dinas Pariwisata. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca

Wanita Tewas Dalam Lemari Pernah Unggah Foto Bersama Pelaku, Sempat Usir dari Kos sebelum Dibunuh

Berita Populer