Kanal

Ajari Ortu Cara Menangani Anak Cerebral Palsy, Dharma Wanita dan IWAPI Gelar Workshop HTHT

Octorina Bashusanti melatih berjalan salah satu anak berkebutuhan khusus dengan terapi HTHT, Minggu (29/7/2018) - ist

SURYA.co.id | SURABAYA - Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya bekerjasama dengan IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dan Octotouch menggelar acara workshop How To Handle Them (HTHT) di Graha Sawunggaling, Gedung Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (29/7).

Octorina Bashusanti selaku praktisi dan founder Octotouch didapuk sebagai pembicara.

Sebelum memulai acara Octo memberikan sebuah hiburan agar proses sosialisasi (How To Handle Them) HTHT bisa berjalan gayeng.

Octo mengajak ratusan peserta yang hadir untuk berdiri lalu berjoget bersama.

Setelah itu Octo menjelaskan kepada peserta tentang teori metode terapi HTHT.

Peserta terlihat fokus mendengar materi yang disampaikan Octo.

Sesekali Octo melontarkan banyolan untuk mencairkan suasana.

Peserta pun diberikan kesempatan untuk bertanya segala hal terkait terapi HTHT disela-sela pemberian materi.

Terapi HTHT diciptakan oleh Octo ketika anak terakhirnya bernama Drumas Arsha Balawan Billaqil divonis dokter menderita Epilepsi dan Cerebral Palsy.

Drumas pun harus menghabiskan waktu diatas kasur karena tak dapat berjalan, menelan, maupun bicara.

"Teknik HTHT saya temukan karena faktor ketidaksengajaan dan alami. Waktu itu Drumas dinyatakan hanya bisa bertahan hidup selama 6 tahun. Saya sebagai ibu tak ingin hal itu terjadi," ujarnya.

Segala cara ia lakukan untuk kesembuhan buah hatinya, hingga pada tahun 2004 ia menemukan metode baru terapi untuk anak Cerebral Palsy maupun Epilepsi. Ia memberikan sentuhan-sentuhan fisik, non fisik, maupun verbal Drumas.

"Yang paling penting Drumas saya berikan sentuhan cinta saat merawatnya," katanya.

Seraya belajar dan membaca buku, ia terus menyempurnakan terapi yang melibatkan sentuhan langsung dari orang tua.

Usahanya membuahkan hasil, Druma bisa makan, menjadi Drummer Teenager, dan juga bisa jalan mandiri dengan menggunakan bantuan dua tongkat.

"HTHT itu ilmu terapan dari Sensory Integration. Namun, saya harus berjuang lagi untuk menemukan detailnya. Sehingga ada perbedaan antara HTHT dan Sensory Integration," ungkapnya.

Ia menyebutkan terapi HTHT memiliki empat pilar yakni pilar touch hand, touch eyes, touch voice, dan touch love.

Terapi HTHT tak hanya mengharuskan para orang tua untuk paham teori melainkan juga mempraktekkannya.

Maka dari itu Octo memberikan tutorial cara menerapi anak yang menderita Cerebral Palsy maupun autis.

Octo pun memilih peserta untuk melakukan praktek langsung terapi HTHT, peserta itu bernama Fauzi.

Fauzi tak mau menoleh maupun memberi respon menyapa balik ketika namanya dipanggil.

Sebab orang tuanya telah terbiasa memanggil Fauzi dengan sebutan 'nak'.

Saat melakukan praktek ia memanggil nama Fauzi berkali-kali seraya mengelus pundak dan mendekapnya dari belakang. Kurang dari 5 menit Fauzi merespon panggil itu dengan menoleh.

"Orang tua harus yakin terlebih dahulu, bahwa terapi HTHT dapat membantunya," katanya.

Menurut Octo orang tua akan merasakan manfaat terapi HTHT secara langsung, meski hanya dilakukan sepersekian detik.

Namun, otang tua anak berkebutuhan khusus harus melakukan terapi HTHT secara berkala dan terus menerus.

"Dampak manfaat dari terapi HTHT bukan hanya sesaat saja, melainkan jangka panjang asal orang tua konsisten memberikan empat pilar sentuhan itu,'' katanya.

Ia memaparkan bahwa terapi HTHT dapat diterapkan pada pasien dari berbagai usia. Orang tua pasca terserang stroke, parkinson, dan brain damage bisa diterapi dengan HTHT.

"Ibu-ibu lain bisa belajar terapi HTHT melalui media sosial instragram kami octotouch dan facebook octotouch by Octorina. Disana ada video tutorial. Kami juga akan membalas pertanyaan yang disampaikan para orang tua di sana," katanya.

Octo menambahkan, terapi HTHT sangat berguna bagi orang tua untuk pendamping terapi konvensional. Hal ini, dilakukan supaya terapi konvensional seperti terapi medis, speech terapi, dan fisio terapi dapat membuahkan hasil yang signifikan.

"Sebab banyak ditemukan keluhan orang tua soal anaknya yang telah menjalani terapi konvensional tapi tak kunjung sembuh," katanya.

Sementara itu, peserta bernama Tri Utari mengungkapkan bahwa acara workshop How To Handle Them telah menambah wawasannya terkait penanganan anak berkebutuhan khusus. Wanita yang mengenakan kerudung krem ini adalah guru SDN Wonokusumo 1 yang sebagian muridnya adalah anak berkebutuhan khusus.

"Terapi HTHT ini akan saya praktekan saat mengajar mereka. Lalu saya akan membagi ilmu terapi ini ke orang tua murid agar mereka bisa melakukan juga. Terapi yang paling baik adalah keluarga," ungkapnya.

Peserta lain bernama Nur Cahaya mengatakan, bahwa sebenarnya ia telah melakukan terapi sentuhan kepada anaknya Gema Fikriansyah yang menderita Cerebral Palsy.

Tetapi, terapi sentuhan yang ia lakukan tak berdasar alias tak ada ilmunya.

"Memang betul sentuhan itu sangat berdampak bagi anak. Akan saya berhasil meneruskan pendidikannya ke jenjang mahasiswa. Karena acara ini sentuhan saya sudah mulai berdasar karena saya tau ilmuny," pungkasnya. 

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer