Kanal

Diduga Perizinan Tower Seluler Sarat Gratifikasi, Setiap Hari Warga Sekitar Ketakutan

Sukoco menunjukan jarak tower seluler yang berdiri di Desa Belotan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan dengan rumah Giman mertuanya kurang dari satu meter dan setiap hari menghantui warga setempat itu. - SURYA Online/Doni Prasetyo

SURYA.co.id | MAGETAN - Setiap malam warga di Desa Belotan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan di resahkan dengan berdirinya tower milik salah satu operator seluler di lingkungannya. Pasalnya tower dengan tinggi mencapai 55 meter itu didirikan hanya berjarak kurang satu meter dari rumah warga.

Diduga pendirian tower yang berada di lahan Sokeh, perangkat desa setempat itu tidak sesuai dengan peraturan pemerintah dan sarat gratifikasi, sehingga izin lingkungan yang mestinya tidak bisa terbit, karena tower itu sangat membahayakan keselamatan warga setempat, bisa diterbitkan.

"Setiap hari, siang atau malam selalu terdengar bunyi kreket kreket. Apalagi ini musim angin, suaranya sangat keras. Setiap hari saya dan keluarga sangat ketakutan. Tapi bagaimana lagi, saya orangtua, tidak paham aturan pemerintah," kata Giman, yang rumahnya hanya berjarak satu meter, bersebelahan dengan tower seluler ini kepada Surya, Sabtu (7/7-2018).

Dikatakan Giman, sebelum tower dibangun, warga yang berada di lokasi bakal tower didirikan dikumpulkan di kantor desa, saat itu rapat dipimpin Kepala Desa (Kades) dan kontraktor pelaksana pembangunan sekaligus yang mengurus izin.

"Semua yang diundang ke kantor desa orang orang tua semua, termasuk janda janda. Kami diminta tanda tangan dan diberi uang, saya diberi Rp 2 juta, lainnya Rp 1 jutaan. Seingat saya yang diberi uang Rp 2 juta, dua orang. Tapi setelah melihat tower seperti ini, saya menyesal terima uang itu," kata Giman, seraya menambahkan lahan tower milik Sokeh itu dikontrak selama 11 tahun, dan sudah berjalan satu tahun tinggal 10 tahun.

Sementara Sukoco, yang rumahnya disebelah Giman dan saat proses pembangunan tower sedang bekerja di pengeboran minyak Cepu, mengaku sudah dua kali menggugat (istilah Sukoco) ke Satpol PP. Tapi hingga sekarang ini tidak ada tanggapan.

"Dua kali saya menggugat ke Satpol PP. Tapi, nyatanya tower tetap berdiri. Saya biasa bekerja di proyek seperti ini, saya tahu bagaimana izin bisa diberikan dan tidak," kata Sukoco.

Menurut Sukoco, izin warga atau izin lingkungan merupakan perizinan awal yang harus dimiliki dan itu mutlak sebelum pembangunan tower seluler. Biasanya peraturan pemerintah atau peraturan daerah (Perda) di tiap tiap daerah memberlakukan persyaratan yang sama.

"Izin warga itu dibatasi dengan tingginya tower yang akan dibangun. Kalau tower setinggi 55 meter, maka warga yang berada di radius 55 meter dari titik tower didirikan. Untuk warga diluar radius itu tidak wajib dimintai izin," jelas Sukoco.

Sukoco berharap dengan bupati baru nanti, izin pendirian tower itu bisa ditinjau kembali, dan warga yang berada di disekitar tower milik Telkomsel bisa hidup tenteram, tanpa dihantui rasa takut setiap hari akan tower rubuh.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Cak Sur

Kronologi Lengkap Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi yang Dilakukan Haris Simamora

Berita Populer