Kanal

Indikator Ekonomi Membaik, Intiland Optimistis Catatkan Kinerja Positif di 2018

Sinarto Dharmawan, VP & COO PT Intiland Development Tbk, saat menunjukkan maket salah satu produk Intiland yang ada di Surabaya. - surya/Srihandi lestari

SURYA.co.id | SURABAYA - Pengembang properti PT Intiland Development Tbk atau Intiland optimis tahun 2018 ini akan mampu meningkatkan kinerja. Emiten berkode DILD ini melihat dari indikator perekonomian dan iklim investasi di tahun ini yang positif dan membaik dibanding tahun 2017.

"Menghadapi kondisi pasar di 2018, Perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja usaha. Salah satunya adalah melalui pengembangan dan peluncuran proyek-proyek baru yang akan dilakukan tahun ini," kata Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Senin (23/3/2018).

Untuk meluncurkan proyek-proyek baru, pihaknya tentu tetap mempertimbangkan perubahan arah dan kondisi pasar. Namun dirinya yakin kondisinya akan berangsur membaik, sehingga pasar properti akan kembali bergairah dan kondusif bagi investasi.

"Manajemen perseroan berkeyakinan kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik tahun ini. Perubahan ke arah positif tersebut antara lain ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain arah perkembangan indikator perekonomian dan iklim investasi Indonesia yang cenderung tumbuh positif," ungkap Archied.

Sementara itu, terkait kinerja keuangan di tengah kondisi pasar properti yang kurang kondusif di sepanjang tahun 2017, berdasarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember 2017, Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 2,2 triliun, atau menurun tipis dibandingkan tahun 2016 yang mencapai Rp 2,3 triliun. Hal itu terjadi karena kondisi pasar properti secara umum belum sepenuhnya pulih di tahun 2017.

"Pasar properti nasional masih  menghadapi sejumlah tantangan pertumbuhan, selain juga disebabkan konsumen dan investor yang cenderung masih mengambil sikap menunggu (wait and see) terhadap perubahan kondisi  pasar," jelasnya.

Namun segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha.

Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 550,9 miliar, atau memberikan kontribusi sebesar 25 persen dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak sebesar 578 persen dibandingkan pencapaian tahun 2016 yang mencapai Rp81,3 miliar.

Segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income memberikan kontribusi senilai Rp 528,2 miliar atau 24 persen dari keseluruhan. Segmen ini meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar Rp180,6 miliar atau 52 persen dari pencapaian tahun 2016 senilai Rp 347,6 miliar.

Peningkatan yang cukup signifikan ini, terutama dipicu oleh meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca

Video Viral Polisi Sempatkan Diri Beribadah ketika Bertugas di Belakang Suporter Bola

Berita Populer