Berita Surabaya

Gunakan Tipe Rangka Batang, Desain Jembatan Mahasiswa Universitas Narotama Juarai Kompetisi

Tiga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Narotama hingga keluar sebagai juara pertama dalam Balsa Bridge Competition 2019

Gunakan Tipe Rangka Batang, Desain Jembatan Mahasiswa Universitas Narotama Juarai Kompetisi
SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
Tim Sinar Adhigana menunjukkan piala yang didapat dari juara pertama Balsa Bridge Competition 2019 yang diadakan oleh UK Petra Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA – Balsa Bridge Competition 2019 yang diadakan oleh UK Petra Surabaya selalu menarik perhatian mahasiswa yang menempuh program studi teknik sipil.

Seperti yang dilakukan tiga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Narotama hingga keluar sebagai juara pertama dalam Balsa Bridge Competition 2019.

Mereka yaitu Mustafik Ariansya, Cindy Aqtavia dan Febri Devlia Finuri yang tergabung dalam Tim Sinar Adhigana.

Mustafik menjelaskan, ia dan timnya mengikuti kompetisi dengan konsep tidak jauh berbeda dari jembatan biasa sesuai dengan teori jembatan pada umumnya, yaitu menggunakan tipe rangka batang.

Tidak tanggung-tanggung, Tim Sinar Adhigana berhasil mengalahkan 178 tim yang lainnya dengan struktur jembatan dari kayu Balsa yang mereka buat. Mustafik mengatakan memang ada yang sedikit berbeda dari jembatan Tim Sinar Adhigana.

“Jembatan kami memadukan desain rangka batang tipe Pratt dan tipe Howe. Tipe Pratt memiliki batang diagonal yang mengarah ke bawah, sedangkan tipe Howe memiliki struktur batang diagonal yang mengarah ke atas. Jadi kami memadukan kedua tipe itu dalam jembatan yang kami buat,” kata mahasiswa semester 4 itu.

Dalam waktu 6 jam yang disediakan oleh panitia, Tim Sinar Adhigana berhasil membuat jembatan kayu balsa meskipun dengan perasaan yang sedikit was-was.

“Was-was karena tim yang lain duluan selesai daripada kami. Untungnya kami bisa tenang mengerjakan jembatan itu sesuai dengan rancangan yang sudah kami coba sebelumnya,” lanjutnya.

Cindy melanjutkan, mereka sudah melakukan trial error untuk rancangan pada babak final itu selama 2 bulan sebelum kompetisi.

“Setiap kali ada kerusakan, kami langsung perbaiki. Selama uji coba di kampus, jembatan kami kuat menahan beban sampai 73 kg,” tuturnya.

Desain mereka juga sudah diuji di kampus, tetapi mereka masih tidak percaya diri. Pasalnya lawan terberat mereka di kompetisi Balsa Bridge, yaitu tim dari Unisma (Universitas Islam Malang) dan ITS (Institut Teknologi 10 Nopember) biasanya bisa sampai menahan beban seberat 90-100 kg.

Namun, ternyata hasil saat babak final justru mengejutkan mereka.

“Jembatan kami malah bisa menahan beban seberat 80,5 kg. Cukup jauh dibandingkan dengan juara kedua yang bebannya hanya 68,7 kg,” jelas Cindy.

Hasil tersebut cukup membuat mereka terkejut, terutama ketika mereka dinobatkan sebagai juara.

“Tentunya sangat senang, apalagi ini adalah kompetisi yang pertama kali saya dan Febri ikuti. Ini menjadi motivasi yang besar buat kami berdua di kompetisi-kompetisi selanjutnya,” pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved