Kelangkaan Bibit Tahun Lalu Jadi Pemicu Anjloknya Harga Ikan Patin di Tulungagung

Kepala Dinas Perikanan Tulungagung, Tatang Suhartono menyebut anjloknya harga ikan patin terjadi karena kelangkaan bibit pada 2018 lalu.

Kelangkaan Bibit Tahun Lalu Jadi Pemicu Anjloknya Harga Ikan Patin di Tulungagung
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Sejumlah pekerja membuat fillet patin, di pabrik milik Dinas Perikanan Tulungagung. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Harga ikan patin di pasaran saat ini berada di titik terendah, hanya Rp 12.000 per kilogram.

Harga itu adalah harga BEP bagi para pembudidaya patin mandiri. Kondisi ini cukup memberi dampak ekonomi bagi pembudidaya, mengingat produk yang dihasilkan mencapai 56 ton per hari.

Kepala Dinas Perikanan Tulungagung, Tatang Suhartono mengakui, harga patin kurang bersahabat bagi pembudidaya.

Menurutnya, kondisi ini bermula saat awal 2018 lalu Indonesia sempat kesulitan benih patin.

Saat benih kembali tersedia, maka semua secara bersamaan mulai memelihara patin.

“Karena memeliharanya bersamaan, maka panennya juga bareng-bareng. Resikonya panen bareng, harganya turun,” ujar Tatang.

Selain itu kualitas patin yang dihasilkan di sejumlah sentra juga menurun, seperti di Boyolangu dan Campurdarat.

Daging patin berwarna kuning, padahal yang diminati pasar dagingnya berwarna putih. Akibatnya pabrik tidak mau menerima, dan harus dijual di pasar bebas.

“Daging berwarna kuning itu banyak faktornya. Tapi yang utama pengaturan air yang kurang bagus,” sambung Tatang.

Selama ini 60 persen patin produk Tulungagung diserap pabrik, sisanya dijual di pasar bebas. Tatang menambahkan, saat ini kondisi sudah berangsur normal.

Para pembudidaya mulai banyak yang mengatur waktu awal pemeliharaan. Ia meyakini, beberapa bulan ke depan harga akan kembali normal.

Selama ini Dinas Perikanan juga mempunyai pabrik pengolahan patin. Pabrik fillet patin ini membeli ikan dari pembudidaya seharga Rp 14.000 per kilogram.

“Kondisinya mulai terurai. Kasihan kalau berlarut-larut, karena pembudidaya patin jumlahnya sangat besar,” pungkas Tatang.

Ikan patin adalah ikan konsumsi andalan Tulungagung setelah gurame. Patin juga dinilai lebih menjanjikan dibanding gurame, karena diterima pasar luar negeri. 

Harga Ikan Patin Anjok, Para Pembudidaya Bingung Menjual Hasil Panen

Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved