Harga Ikan Patin Anjok, Para Pembudidaya Bingung Menjual Hasil Panen

Harga ikan patin di Kabupaten Tulungagung mengalami penurunan. Akibatnya, para pembudidaya patin sulit mendapat keuntungan.

Harga Ikan Patin Anjok, Para Pembudidaya Bingung Menjual Hasil Panen
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Sejumlah pekerja membuat fillet patin, di pabrik milik Dinas Perikanan Tulungagung. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Harga ikan patin di Kabupaten Tulungagung mengalami penurunan hingga Rp 12.000 per kilogram. Bahkan jumlah panen ikan andalan Tulungagung ini kesulitan diserap oleh pasar.

Tulungagung adalah sentra ikan patin yang bisa menghasilkan 56 ton per hari. Harga yang tertekan membuat para pembudidaya patin sulit mendapat keuntungan.

Salah satu sentra budidaya ikan patin yang terkena dampaknya adalah di Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol.

Menurut pengurus Kelompok Mina Makmur, Yoyok Mubarok, turunnya harga sudah terjadi sejak tiba bulan. Yoyok memperkirakan, anjloknya harga ini bisa bertahan hingga akhir tahun.

“Sebenarnya pasarnya sangat terbuka, sampai ekspor. Mungkin karena panen bersamaan, jumlah produknya banyak sehingga harganya turun,” ucap Yoyok, Kamis (16/5/2019)

Penurunan harga ini tidak begitu berpengaruh bagi pembudidaya, dengan sistem kemitraan. Pabrik yang menjadi mitra tetap membeli dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 15.500 per kilogram. Sebelumnya harga bisa mencapai Rp 17.000 per kilogram.

Pembudidaya mandiri yang paling merasakan dampaknya. Mereka tidak bisa menjual ke pabrik, sehingga satu-satunya solusi menjual ke pasar bebar. Harga paling bagus di pasar saat ini hanya Rp 13.000 per kilogram.

“Harga BEP untuk pembudidaya itu sekitar Rp 12.000 per kilogram. Pembudidaya mandiri yang paling pusing,” ujar Yoyok.

Para pembudidaya tidak punya pilihan selain menjual ikan dengan harga pasar. Sebab jika ditahan akan memakan pakan lebih banyak dan ukurannya menjadi sangat besar. Jika ukuran mencapai 2 kilogram per ekor, maka akan semakin sulit diterima pasar.

“Ada pembudidaya yang coba menahan, tidak dipanen karena harganya pas jatuh. Sekarang dia malah kesulitan, karena tidak ada pembeli,” ungkap Yoyok.

Sebagai solusi, banyak di antara pembudidaya yang beralih ke gurami. Namun Yoyok bersama kelompoknya memilih ikan nila. Ikan ini memang tidak banyak dibudidayakan.

Namun menurutnya, pasar nila masih sangat terbuka. Dengan masa pemeliharaan hanya 4 bulan, harganya mencapai Rp 20.000 per kilogram. Nila juga lebih mudah perawatannya.

“Selama ini Tulungagung sudah sangat banyak yang memelihara gurame. Kalau kami beralih ke gurame, saya yakin harganya juga akan rusak,” pungkas Yoyok. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved