Citizen Reporter

Melacak Jejak Raja-raja di Bumi Tumpang

Di masa lampau, raja-raja Tumapel hingga Singhasari telah didharmakan sebagai dewa yang dipuja di bumi Tumpang.

Melacak Jejak Raja-raja di Bumi Tumpang
ist/citizen reporter
Candi Jago di kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. 

SURYA.co.id | MALANG - Tumpang adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Malang.

Kecamatan yang dikenal sebagai salah satu jalur ke Gunung Bromo itu menyajikan hamparan pegunungan dan lembah yang indah. 

Di masa lampau, raja-raja Tumapel hingga Singhasari telah didharmakan sebagai dewa yang dipuja di bumi Tumpang.

Pendharmaan merupakan proses pembangunan bangunan suci untuk menghormati raja yang memerintah di masa Hindu-Budha. Bangunan suci itu bisa disaksikan sebagai candi.

Terdapat dua candi utama yang masih dapat ditemui di Tumpang, yakni Candi Jago dan Candi Kidal.

Dua tempat itulah yang menjadi tujuan rombongan mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (6/4/ 2019).

Dipandu Rakai Hino, mahasiswa S2 UM yang juga ahli sejarah dan relief, mahasiswa diajak mempelajari relief sekaligus menambah wawasan sejarah dan melacak jejak para raja.

Destinasi pertama adalah Candi Kidal, sebuah bangunan arkaik untuk menghormati Raja Anusapati, anak tiri Ken Arok sang pendiri dinasti. Bangunan itu lebih menyerupai menara batu yang menjulang tinggi.

“Keunikannya pada motif patung singa di beberapa sudut candi. Itu menarik karena singa bukanlah hewan asli Indonesia. Bagaimana mungkin orang Jawa di masa lalu bisa tahu bagaimana penggambaran singa yang sesungguhnya? Apakah dulu orang mengimpor singa? Itu masih menjadi misteri,” kata Rakai yang juga penulis buku Pendidikan Karakter Masa Majapahit: Tinjauan Prasasti-Prasasti Lereng Sewu.

Candi berikutnya adalah Candi Jago. Namanya berasal dari kata Jajaghu yang terdapat dalam kitab Negarakrtagama. Candi itu dipenuhi relief yang menceritakan kisah Tantri. Kisah Tantri adalah kumpulan fabel (cerita hewan) yang berisi ajaran moral dan kebaikan.

“Relief Tantri pada Candi Jago tidak lain merupakan cara leluhur orang-orang Jawa dalam memberikan pesan dan ajaran moral kepada generasi selanjutnya," tambahnya.

Salah satu relief yang dikenal pada Candi Jago lainnya adalah relief kisah Aridharma atau yang lebih dikenal sebagai Anglingdharma. Cerita Anglingdharma pada relief Candi Jago berkisah tentang perjalanan cinta Prabu Anglingdharma untuk menemukan cinta sejatinya. Semua kisah pada relief di Candi Jago mengajarkan pesan moral yang sama, yakni kebaikan akan menang dan angkara murka akan sirna.

Penulis : Agustin Rahayu Intan Berlianti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved