Citizen Reporter

Demi Anak, Letakkan Gadget Sejenak

Orangtua harus menjadi role model keluarga karena pengajaran karakter anak harus dimulai dari bapak ibunya dan dimulai dengan memberikan contoh sikap.

Demi Anak, Letakkan Gadget Sejenak
ist/citizen reporter
Sosialisasi Parenting Education bertema pola pengasuhan untuk membentuk karakter anak yang digelar mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang, Jumat (21/3/2019). 

SURYA.co.id | Sekitar 80 persen otak anak berkembang pada usia nol hingga 5 tahun. Masa ini juga disebut golden ages atau masa-masa emas. 

Di rentang usia itu, peran orangtua dalam membentuk karakter anak sejak dini sangat diperlukan.

Itulah yang coba disampaikan lewat Sosialisasi Parenting Education bertema pola pengasuhan untuk membentuk karakter anak yang digelar mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang, Jumat (21/3/2019).

Di ajang itu, orangtua diajak berkolaborasi untuk membentuk karakteranak yang baik. 

Annisa Dzikri, salah satu panitia menyebutkan, acara itu bertujuan membuka wawasan orang tua untuk belajar mengasuh dan membantu membentuk karakter baik pada anak-anaknya.

Annisa dan kawan-kawan bekerja sama dengan TK PAUD Dewi Sartika Dinoyo. Acara itu diselenggarakan di Kelurahan Dinoyo Kota Malang. Sebanyak 50 wali murid hadir dalam sosialisasi.

Materi disampaikan Ellyn Sugeng Desianty yang merupakan konsultan pendidikan keluarga. Realitas pengasuhan saat ini menjadi topik pengantar sebelum Ellyn memberikan tips dan solusi pembentukan karakter anak. Ia mengatakan, membentuk karakter anak harus dimulai dari kedua orang tuanya.

“Kalau menyuruh anaknya belajar, ya ibunya harus mendampingi. Jangan malah menonton TV,” kata Ellyn.

Ia menyarankan orangtua menjadi role model keluarga karena pengajaran karakter anak harus dimulai dari bapak ibunya dan dimulai dengan memberikan contoh nyata.

Tutik, salah satu peserta mengajukan pertanyaan tentang sikap anak yang introvert dan gemar bermain gadget. Menurut Ellyn, orang tua harus mulai mengajak bicara pelan-pelan.

“Setiap pulang sekolah minta untuk diceritai apa saja agar anak bisa terbuka. Kalau orang tuanya masih bermain gadget di depan anaknya, maka anak pun akan menirunya,” ungkap Ellyn yang berinteraksi dengan peserta sambil menganalogikan anak sebagai kertas putih yang kosong.

Acara yang berlangsung selama dua jam itu mendadak ramai. Pada akhir acara, anak-anak ikut di dalam ruangan dan menemui orang tuanya.

“Saya senang. Jarang bisa belajar pengasuhan seperti ini. Semoga waktu lain bisa diadakan lagi,” respons Asih, salah satu peserta.

Penulis : Ahmat Solikin, Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved