PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Berhasil Dorong Masyakarat Kembangkan Pertanian Organik

PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, berhasil mendorong masyakatan di kawasan Blora untuk mengembangkan pertanian organik

PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Berhasil Dorong Masyakarat Kembangkan Pertanian Organik
istimewa
Pertanian organik warga desa Bago, Kecamatan Kedung banteng, Kabupaten Blora yang merupakan hasil kolaborasi dengan program PSRLB dari PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu siap panen raya mulai bulan ini. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dari sektor hulu, PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, berhasil mendorong masyakatan di kawasan Blora untuk mengembangkan pertanian organik melalui program pelatihan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB), yang sudah diinisiasi sejak 4 Juni 2018 lalu.

Cepu Government & PR Staff PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Intan Anindita Putri, mengatakan melalui program PSRLB ini Perusahaan ingin beriringan dengan masyarakat sekitar daerah operasi melakukan sinergi.

“Banyak anggapan pertanian organik akan sulit hidup di dekat perusahaan migas. Kami kemudian bersinergi dan anggapan itu berhasil dipatahkan," kata Intan Anindita, Rabu (8/5/2019).

Terbukti, walaupun berdekatan dengan titik sumur pemboran yang dikelola PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, yaitu NKT-01TW, pertanian organik berhasil melakukan panen raya secara kelompok di April 2019 ini.

"Secara garis besar program PSRLB ini terbagi menjadi tiga bagian yakni budidaya padi organik (SRI organik), sayuran organik, dan pemanfaatan tanaman obat keluarga (toga)," tambah Intan.

Selama proses program PSRLB berlangsung, kelompok petani mendapatkan pendampingan dan monitoring rutin.

Hasilnya, kelompok tani Bina Alam Sri di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, berhasil mendapatkan manfaat dari program ini.

"Setara Rp 6 juta per hektare. Di kegiatan kami mengambil dan mengumpulkan bahan baku pupuk kandang, sekitar 30 karung jadi kompos yang bisa dimanfaatkan di lahan pertanian kelompok kami," cerita Surat, Ketua Kelompok Tani Bina Alam Sri.

Sawah yang sebelumnya menggunakan pupuk kimia hanya bisa menghasilkan 7 ton per hektare. Setelah mengenal pertanian organik, kini hasilnya bisa sampai 8-9 ton per hektare.

Saat panen perdana bulan Januari 2019 lalu, setidaknya 11 orang anggota kelompok dapat menikmati hasil produksi maksimal seluas 2,4 hektare.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved