Ramadan 2019

Menikmati Bubur Suro Sunan Bonang saat Ramadan di Tuban, Resep Tak Berubah Sejak 5 Abad Lalu

Bubur Suro Sunan Bonang, resepnya tak berubah sejak lima abad lalu di Tuban. Selalu dibuat saat Ramadan

Menikmati Bubur Suro Sunan Bonang saat Ramadan di Tuban, Resep Tak Berubah Sejak 5 Abad Lalu
m sudarsono/surya
Suasana pembagian bubur Suro Sunan Bonang di halaman Masjid Astana Tuban, Rabu (8/5/2019). 

SURYA.co.id | TUBAN - Setiap bulan Ramadan tiba, pemandangan sekelompok orang memasak bubur terlihat di halaman masjid Astana Sunan Bonang, Kelurahan Kutorejo, Tuban. Para juru masak disibukkan menyiapkan bumbu bubur suro, yang disiapkan di dua wajan berukuran besar sebagai wadah bubur.

Beras 25 kilogram, daging sapi 6 kilogram, balungan 10 kilogram, dicampur bumbu gule, dan parutan 10 kelapa menjadi pelengkap bubur suro. Setidaknya memerlukan waktu tiga jam untuk memasak bubur yang turun temurun sejak Sunan Bonang tersebut, sekitar tahun 1500 M.

Menurut pengurus yayasan Sunan Bonang, Ihwan Hadi (64), para juru masak mulai berkumpul pukul 13.00 WIB. Lalu mereka meracik bumbu dan segala keperluan bubur hingga matang pada pukul 16.00 WIB. Setelah itu didiamkan dan dibagi kepada warga maupun pengunjung pada pukul 17.00 WIB.

"Masaknya membutuhkan waktu tiga jam, setelah itu tak lama kemudian dibagikan. Bubur di dua wajan itu cukup dibagi untuk ratusan orang," Ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (8/5/2019).

Dia menjelaskan, warga yang mengantre pembagian bubur kebanyakan masyarakat sekitar, lalu ada juga pengunjung yang bertepatan berada di kawasan masjid astana juga kebagian.

Ihwan menambahkan, rasa bubur ini diyakini tidak berubah sejak dulu.

Sebab, resepnya ini turun-temurun sejak zaman Sunan Bonang.

Pria yang sudah di yayasan selama 21 tahun itu membeberkan, alasan mengapa pada masa Sunan Bonang pembagiannya berupa bubur dan tidak nasi.

Sebab kalau nasi membutuhkan biaya yang banyak, belum lauknya dan lain-lain.

Sedangkan kalau bubur sangat ekonomis dan praktis, cukup untuk santri dan jamaah pada masa anak Sunan Ampel tersebut.

"Bubur itu ekonomis, beda dengan nasi yang mahal. Bubur juga cukup untuk dimakan orang banyak, rasanya khas dan saya kira hanya ada di Tuban saja," pungkasnya.

Sementara itu, Khoirul warga yang ikut mengantri menyatakan, sudah biasa setiap ramadhan tiba dia selalu membatalkan puasa dengan makan bubur suro.

Bubur ini memiliki rasa atau aroma rempah yang khas yang tidak dimiliki bubur lainnya.

"Enak buburnya, makan bubur dulu bareng jamaah lainnya, nasinya nanti," ucapnya mengakhiri.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved