Citizen Reporter

Mencari Kebebasan Ekspresi, Memanfaatkan Setiap Ruang Untuk Berwacana

Beberapa tempat di UM kini menjadi ruang diskusi yang nyaman untuk saling berargumentasi dan menyalurkan pendapat untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Mencari Kebebasan Ekspresi, Memanfaatkan Setiap Ruang Untuk Berwacana
ist/citizen reporter
komunitas Lapak Diskusi UM 

SURYA.co.id | Sudut-sudut kampus Universitas Negeri Malang (UM) tak luput dipakai oleh mahasiswa untuk menyalurkan hasrat-hasrat pengetahuannya.

Beberapa tempat kini menjadi ruang diskusi yang nyaman untuk saling berargumentasi dan menyalurkan pendapat untuk kemajuan ilmu pengetahuan. 

Itu seperti yang dilakukan para mahasiswa UM yang tergabung dalam komunitas Lapak Diskusi UM yang Kamis malam (14/3/2019) memanfaatkan sudut Kafe Pustaka UM sebagai tempat diskusi.

Dipantik Eki Robbi Kusuma, mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah dan Rino Hayyu Setyo, mahasiswa S2 Pendidikan Luar Sekolah (PLS), diskusi itu membahas isu-isu yang berkembang akhir-akhir ini, terlebih terkait kebebasan berekpresi.

Kegiatan bertajuk Darurat Dimokrasi itu menyoal penangkapan dan ditetapkannya Robertinus Robert, dosen Sosiologi Unversitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai tersangka karena orasinya yang menolak Dwifungsi TNI.

“Karena kita sama-sama orang akademisi, harus peduli dengan kasus ini. Ini menyangkut kebebasan berekpresi dan terkait mimbar akademik yang diutarakan akademisi,” ujar Rino.

Melalui artikel pemantiknya berjudul Membela Robertus atau Orba, Rino menerangkan melihat dan menelaah kembali isi orasi yang disampaikan Robert adalah hal yang penting dilakukan. Terlebih orasi tersebut menganggap menghina instituti tertentu adalah hal yang cukup gegabah. Dalam hal ini Rino lebih menyangkut-pautkan kejadian itu dengan pendidikan publik atau biasa disebut public pedagogy.

“Dalam melihat hal ini saya kira lebih pada menyangkut ilmu pendidikan dengan komunikasi massa, karena ini membangun kesadaran publik, bukan hanya saling hina,” ungkap mahasiswa yang berfokus pada pendidikan masyarakat ini.

Selain itu, Rino juga menyoal kebebasan berekspresi ini menjadi masalah bersama. Terlebih dia juga berharap ada tinjauan lebih mendalam lagi berkait dengan penerapan UU ITE yang gampang sekali memerkarakan seseorang hingga membelenggu kebebasan.

Itu berbeda dengan Eki, dengan artikel pemantiknya yang berjudul Dalam Bayang-bayang Loreng: Merenungi Hubungan Sipil dan Militer di Era Demokratisasi lebih menyorot pada sejarah masuknya militer pada birokrat sipil.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved