Citizen Reporter

Pesta Budaya Miniatur Indonesia di IKIP Budi Utomo Malang

IKIP Budi Utomo (IBU) Malang dikenal sebagai miniatur Indonesia. Buktinya adalah Pentas Budaya Nusantara.

Pesta Budaya Miniatur Indonesia di IKIP Budi Utomo Malang
ist/citizen reporter
Pentas Budaya Nusantara di IKIP Budi Utomo, Malang. 

SURYA.co.id | IKIP Budi Utomo (IBU) Malang dikenal sebagai miniatur Indonesia. Itu bisa disaksikan saat Pentas Budaya Nusantara, Selasa (26/3/2019). Pentas digelar di halaman kampus IBU Malang yang berlokasi di Jalan Citandui.

Acara yang ditujukan untuk mengenalkan berbagai jenis seni budaya dibuka Nurcholis Sunuyeko, Rektor IBU, dengan menyematkan kain khas Nagekeo.

Kain tenun yang didominasi warna hitam itu tampak elegan dikenakan mahasiswa yang tampil di panggung.

Kain tenun Nagekeo diwariskan turun temurun oleh para leluhur di Nusa Tenggara Timur (NTT). Generasi penerus ahrus menjaga, memelihara, dan menjadikannya bagian dari nilai budaya dalam kegiatan adat pada ritual-ritual adat di Kabupaten Nagekeo.

“Manusia tidak disatukan dengan pembicaraan, tidak juga dengan pikiran, melainkan dengan keindahan,” ungkap Nurcholis.

Ungkapan itu selaras dengan kegigihan IBU Malang dalam mengedepankan estetika. Setidaknya sekali dalam setahun, IBU menggelar pentas budaya. Keberagaman mahasiswa baik suku, agama, dan ras tentu harus disatukan dengan kecintaan terhadap budaya.

Tari Dayak yang dibawakan tiga penari membuka deretan acara. Mahasiswa dan dosen menyambut pentas budaya itu dengan suka cita. Tari Bidu dari Malaka Tengah, NTT merupakan suguhan kedua. Tarian itu diiringi rararum, sejenis gitar dan biola yang dimainkan Elele.

Berikutnya ada Tari Woleka, tarian tradisional sejenis tarian selamat datang atau penyambutan khas Sumba Barat Daya, NTT.

Itu dilanjutkan dengan Tari Pesta Panen dari Kalimantan Utara. Filosopi dari Tari Pesta Panen itu adalah sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Kenyah kepada Tuhan atas berkat yang diberikan kepada petani, sehingga memperoleh hasil panen padi yang melimpah.

Goyang Mitikey dan Goyang Tobelo dari Maluku Utara yang belakangan santer terdengar juga menyemarakkan pentas. Tak hanya tarian, dalam kegiatan ini juga disuguhkan suara emas mahasiswa yang membawakan puisi dengan bahasa Ambon, juga beberapa lagu, di antaranya lagu Dadi Ati tembang Jawa, Mataleso dari Manggarai, dan Lololida dari Sumba.

Hujan deras yang mengguyur tak menyurutkan semangat penonton untuk melangsungkan pentas budaya itu. Acara tak dihentikan. Acara tetap berlangsung sesuai yang direncanakan hingga pukul 16.00. Semangat IBU Malang dalam menumbuhkan cinta budaya perlu dibanggakan, bukan?

Penulis : Dyah Ayu Sulistyaning Cipta, Dosen IKIP Budi Utomo Malang

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved