Berita Surabaya

Perhimpunan Spesialis Bedah Syaraf Kampanyekan Gerakan Lawan Tumor Otak, Ini Tujuannya

Perhimpunan Spesialis Bedah Syaraf mengkampanyekan Gerakan Lawan Tumor Otak.

Perhimpunan Spesialis Bedah Syaraf Kampanyekan Gerakan Lawan Tumor Otak, Ini Tujuannya
sulvi soviana/surya
Prof dr Abdul Hafid Bajamal SpBS (K) dalam seminar dan diskusi interaktif dalam rangkaian kampanye Gerakan Lawan Tumor Otak di Aula Airlangga Medical Education Center, Sabtu (27/4/2019) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penderita tumor otak di dunia semakin meningkat tiap tahunnya. Bahkan, antrean operasi tumor otak di RSUD Dr Soetomo mencapai 600 orang di tahun 2019. Untuk itu Perhimpunan Spesialis Bedah Syaraf mengkampanyekan Gerakan Lawan Tumor Otak, Sabtu (27/4/2019).

Prof dr Abdul Hafid Bajamal SpBS (K) mengungkapkan penderita tumor otak ini biasanya didominasi usia 20 sampai 40 tahun. Yang paling banyak merupakan tumor otak jinak.

"Jika ditemukan lebih kecil, lebih cepat untuk penanganannya tapi tumor ini tumbuhnya lama jadi banyak diketahui sudah besar," urainya dalam seminar dan diskusi interaktif dalam rangkaian kampanye Gerakan Lawan Tumor Otak di Aula Airlangga Medical Education Center.

Dokter yang praktek di RSUD Dr Soetomo ini menjelaskan hingga saat ini belum ada faktor pasti yang menyebabkan tumbuhnya tumor.

Bahkan, dugaan pemakaian gadget yang mempengaruhi kerusakan otak juga masih dalam tahap penelitian.

"Tiap jenis penyakit memang tidak bisa spesifik. Tetapi ada sejunlah tanda-tanda yang bisa diindikasikan tumor otak. Biasanya sakit kepala hampir semua orang bisa mengalami, kalau sakit kepala yang semakin lama semakin sakit, mata kabur,pengelihatan mendadak juling. Ini bisa dicurigai," ujarnya.

Untuk penanganannya, ia mengungkapkan perlu melakukan pemeriksaan ke spesialis syaraf.

Untuk bisa didiagnosa dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium.

"Supaya cepat penanganannya, makanya perlu edukasi pada tenaga medis hingga masyarakat agar bisa mengenali gejala tumor otak ini," ujarnya.

Panitia kampanye Lawan Tumor Otak, dr Rahardian Indarto Susilo SpBS (K), mengungkapkan melalui kampanye ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan pasien tumor otak dan memicu kepedulian masyarakat.

Sejumlah kondisi emergensi yang kerap salah diagnosa juga dipaparkan dalam kampanye yang dikemas dalam seminar ini.

"Kondisi emergensi penderita tumor misal gangguan mendadak penglihatan yang berat seperti perubahan kemampuan penglihatan dalam waktu singkat atau bulanan. Sakit kepala terus-terusan biasanya diberi obat sembuh, ini bisa tiap hari mendadak sakit," imbuh Rahardian.

Ia bahkan kerap menerima rujukan gangguan hormon pada perempuan seperti masa haid dan keluarnya ASI meskipun tidak menyusui yang mengindikasikan tumor otak.

"Nantinya kampanye ini punya misi utama yang berfokus membantubpasien beserta keluarganya, masyarakat umum dan tenaga medis terkait pelayanan komprehensif tumor otak," ucapnya.

Bahkan, dalam kampanye ini juga menggalang donasi agar dapat membangun rumah singgah bagi keluarga uang mendampingi pasien tumor otak selama pengobatan di RSUD Dr Soetomo.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved