Sambang Kampung

Kampoeng Dolanan ingin Permainan Tradisional Naik Kelas Internasional

"Impian kami, mainan yoyo dengan gambar-gambar kearifan lokal misal tokoh wayang, itu ada di outlet-outlet internasional,"

Kampoeng Dolanan ingin Permainan Tradisional Naik Kelas Internasional
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Sejumlah anak bermain egrang di Kampoeng Dolanan, Simokerto, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tak hanya menaikkan pamor permainan tradisional, komunitas Kampoeng Dolanan juga memikirkan nasib para pedagang mainan tradisional. 

Lewat observasi lapangan, Cak Mus, pendiri Kampoeng Dolanan, melihat banyak pedagang permainan tradisional yang sebenarnya bukan warga Surabaya.

Mereka memasarkan dagangannya di Surabaya, lalu baru pulang ke kota asal ketika dagangan sudah habis.

Sehingga, kebanyakan akan tidur di emperan toko dan baru pulang setelah tiga hari.

"Sumber masalahnya itu, kemudian banyak pedagang relatif tidak ada perkembangan. Jadi ini kami sedang melakukan bisnis sosial bersama 11 pedagang yang terdata di kami," jelas Cak Mus, Rabu (24/4/2019).

Untuk membantu para pedagang, komunitas mengumpulkan uang dengan menjual permainan tradisional seperti gasing, kekek'an, balon 77, ular tangga, dan lain-lain.

Mereka juga membuat sendiri bakiak, dan membeli egrang dari pengrajin bambu di Bangil, sedangkan yoyo dari Jombang.

"Nah seperti yang yoyo ini kan modelnya jadul banget, kalau dipasarkan ke milenial, tidak laku. Jadi kami berusaha memberi inovasi dan kreasi dengan cara membeli yoyo polosan, lalu masuk ke sekolah-sekolah mengadakan workshop menghias yoyo. Anak-anak jadi tahu yoyo dan menghargai hasil karya sendiri," paparnya.

Kampoeng Dolanan Simokerto Sebar Edukasi soal Permainan Tradisional

Laba yang diperoleh dari penjualan kemudian dipakai untuk membeli dagangan 11 pedagang tradisional tersebut dengan harga asli, lalu dijual kembali pada pedagang yang sama dengan harga jauh lebih murah.

"Misal ada yang jual bekicot bunyi-bunyian, kami beli, saya kasih lagi ke mereka. Yang kedua, beli misal Rp 200.000, saya jual dengan varietas yang macam-macam hanya Rp 20.000. Jadi tidak gratis, tapi dengan harga murah," kata Muhammad Arif Abidin, satu di antara relawan Kampoeng Dolanan.

Cara tersebut dirasa lebih efektif karena bila pedagang tidak mengeluarkan uang sepeserpun, mereka cenderung meremehkan dan malas menjual kembali.

Ke depan, Kampoeng Dolanan ingin mengembangkan produk dari para pedagang menjadi kualitas premium, dan diminati wisatawan internasional.

Namun, untuk mewujudkannya, mereka membutuhkan uang lebih.

"Impian kami begini, ketika yoyo hanya bisa dijual di pinggir jalan, kalau yoyo dengan gambar-gambar kearifan lokal misal tokoh wayang, itu ada di outlet internasional, bisa jadi oleh-oleh wisatawan domestik maupun asing. Kami ingin bisa seperti itu," tutup Cak Mus. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved