Berita Surabaya

Drama Siluet Kisah Sengsara Yesus di Jumat Agung Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo Surabaya

Jumat Agung, Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo Surabaya gelar pertunjukan drama Jalan Salib bertajuk Kisah Sengsara Yesus

Drama Siluet Kisah Sengsara Yesus di Jumat Agung Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo Surabaya
surya/ahmad zaimul haq
Jalan Salib ditampilkan dengan drama siluet di Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo Surabaya (SVAPS), Surabaya, Jumat (19/4/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pengorbanan Tuhan Yesus kepada umat manusia bernilai luar biasa. Dikisahkan, Yesus rela mengorbankan diri untuk keselamatan umatnya. Untuk itu setiap peringatan Jumat Agung, tak sedikit gereja-geraja mengingat kembali pengorbanan itu lewat pertunjukan drama.

Tak terkecuali Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo Surabaya (SVAPS). Sebelum mulai ibadah, para jamaah gereja menyaksikan pertunjukan drama bertajuk Kisah Sengsara Yesus, yang biasa ditampilkan saat ibadah Jalan Salib atau Via Dolorosa.

Sedikit berbeda, pertunjukan ditampilkan melalui bayang-bayang hitam lewat kain putih, atau siluet sehingga beberapa adegan kekerasan terlihat samar.

Meski begitu, pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 25 menit ini tetap membuat haru dan trenyuh para jamaah, yang menyaksikan dengan khidmat dan sungguh-sungguh.

Koordinator Drama Jalan Salib, Ignatius Irwan, menceritakan pertunjukan ini sudah disiapkan sejak dua bulan lalu.

Orang Muda Katolik (OMK) SVAPS, Jalan Widodaren 15, Sawahan, Surabaya lah yang jadi eksekutornya.

"Jadi ini sepenuhnya ide dan kreasi dari OMK di sini. Mereka sudah pernah mengadakan drama serupa natal kemarin, cuma tidak dalam lingkup seperti ini. Lalu mereka mencoba untuk bikin ini (drama siluet) yang tidak pernah dilakukan di paroki lain," jelas Ignatius, Jumat (19/4/2019).

Pemilihan konsep siluet lanjut Ignatius karena saran Romo gereja, mengingat selama ini yang muncul pada drama-drama Jalan Salib sebagian bermuatan kekerasan.

"Nah romo menghindari itu. Jangan sampai ada adegan-adegan vulgar, supaya tidak nampak nyata. Konsep siluet itu saya rasa baru pertama kali diadakan di Surabaya," tambahnya.

Romo Antonius Sapta Widada CM membenarkan hal itu.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved