DPRD Surabaya

Warga Mengadu, Ketua DPRD Surabaya Sidak Instalasi PDAM, Kebutuhan Air Warga harus Dipenuhi 

Warga mengadu, Ketua DPRD Surabaya sidak Instalasi PDAM, kebutuhan air warga harus Dipenuhi 

Warga Mengadu, Ketua DPRD Surabaya Sidak Instalasi PDAM, Kebutuhan Air Warga harus Dipenuhi 
surya.co.id/nuraini faiq
SIDAK - Setelah menerima pengaduan warga kampung Kalimas Baru I RW 01, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Ketua DPRD Surabaya Armuji (kiri) langsung sidak ke Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) di Ngagel Tirto, Selasa (16/4/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perwakilan warga kampung Kalimas Baru I RW 01, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan mendatangi kantor DPRD Kota Surabaya, Selasa (16/4). Mereka mengadu langsung kepada Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji, terkait buruknya layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya.

Selama bertahun-tahun, warga di pinggiran Surabaya itu tak bisa menikmati layanan air bersih. Bahkan, mereka mengaku, sejak mereka kecil hingga sekarang beranak pinak, belum ada layanan air besih yang dinikmati warga.

Mereka selama ini mengaku juga rutin membayar pajak. Namun saat giliran soal pemenuhan layanan air bersih, mereka seakan diabaikan. "Buktinya hingga saat ini tidak ada layanan jaringan air bersih PDAM di kampung kami," kata Syafi'i, warga Kalimas Baru, Selasa (16/4/2019).

Kondisi yang dialami warga itu pun sampai di meja Ketua DPRD Surabaya, Armuji. Perwakilan warga di Surabaya Utara itu menyampaikan aspirasi mereka ke ketua Dewan.

"DPRD ini rumah rakyat. Siapa pun warga Surabaya boleh menyampaikan aspirasinya. Apalagi ini menyangkut kebutuhan dasar warga soal air besih. Harus dicarikan solusi agar tidak berlarut-larut," kata Cak Ji, sapaan akrab Armuji.

Di hadapan Ketua DPRD, warga mengeluh dan harus rela bersusah payah membeli air bersih geledekan untuk memasak dan kebutuhan lainnya.

Syafi’I, warga Kalimas Baru RT 02 yang juga pengurus RW 01 mengaku sudah puluhan tahun tak mendapatkan aliran air dari PDAM. Saban hari warga harus membeli air jerigen atau air geledekan.

Kata Syafi'i, total warga di RW 01 sekitar 100 kepala keluarga (KK) dan belum mendapatkan suplai air bersih dari PDAM.

Syafi’i tak habis pikir, kenapa warga kampung pinggiran Surabaya ini luput dari sentuhan layanan air bersih PDAM. Mestinya, tak memandang wilayah dan lokasi kampung, layanan air bersih harus menjadi hak setiap warga Surabaya. Apalagi mereka jelas ber-KTP Surabaya.

Akibatnya, warga harus membeli air jerigen yang dijual keliling pakai gerobak. Satu jerigen biasanya dibeli Rp 4.000. Warga terpaksa membeli, karena butuh untuk masak, mandi, dan cuci pakaian.

Dirasa Mahal
Menurut pria yang akrab disapa Cak Pi’i ini, sebenarny di kampungnya sudah ada pipa induk. Namun kenyataannya, warga masih kesulitan mendapat aliran air bersih dari PDAM.

Warga selama ini mengeluhkan biaya penyambungan meteran PDAM yang dinilai mahal. Menurut pengakuan warga, untuk bisa tersambung dengan pipa jaringan PDAM, warga harus membayar Rp 1,7 juta. Jaringan pipa ini akan dihubungkan dengan pipa induk.

"Tidak tahu kenapa layanan jaringan air bersih PDAM tak mengairi kampung kami," ucap Syafi'i.

Ketua DPRD Armuji yang mendapat keluhan warga itu pun langsung merespons. Dia mengaku bisa memahami situasi sulit yang dihadapi warga Perak Utara. Cak Ji pun langsung menggelar sidak (inspeksi mendadak) ke Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) di Ngagel Tirto.

"Sekali lagi, pemenuhan air bersih adalah hak dasar yang harus dinikmati warga. Pasti ada solusi. Kami akan langsung carikan solusi ke PDAM," kata Cak Ji yang kemarin (16/4) siang langsung sidak ke IPAM Ngagel. (fai)

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved