Berita Bangil

Ribuan Warga Pasuruan Gelar Ngaji Kebangsaan di Masa Tenang, ini Harapan untuk Pemilu 2019

Ribuan warga Pasuruan Gelar Ngaji Kebangsaan di Masa Tenang, ini Harapan untuk Pemilu 2019.

Ribuan Warga Pasuruan Gelar Ngaji Kebangsaan di Masa Tenang, ini Harapan untuk Pemilu 2019
surya.co.id/galih lintartika
Ribuan warga Pasuruan menghadiri Peringatan Isro' Mi'roj sekaligus Ngaji Kebangsaan untuk mendoakan Pemilu 2019 berlangsung aman, damai, dan tentram. 

SURYA.co.id | PASURUAN - Ribuan orang hadir dalam acara Ngaji Kebangsaan di Sentra Bangkodir, Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/4/2019) malam.

Acara diselenggarakan Pondok Pesantren Putri KHA Wahid Hasyim Bangil dalam rangka peringatan Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW 1440 H sekaligus ngaji kebangsaan.

Tak hanya tausyiah, ada beberapa penampilan dari penyanyi Veve Zulfikar yang menghibur para peserta yang hadir dalam kegiatan ini.

Gus Wildan, pengasuh Ponpes Putri KHA Wahid Hasyim mengatakan, acara ini memang digelar dengan semangat untuk memperingati isro miroj Nabi Muhammad SAW.

Tapi, kata dia, acara ini juga dikemas sebagai acara ngaji kebangsaan.

Ngaji kebangsaan ini dilakukan menjelang pelaksanaan pesta demokrasi, Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, mulai dari pilihan presiden, calon anggota dewan dari RI, hingga kabupaten atau kota.

"Ngaji kebangsaan ini diharapkan bisa mempersatukan hati untuk Indonesia," kata Gus Wildan kepada SURYA.co.id usai kegiatan.

Menurut Gus Wildan, ini bukan acara kampanye, bukan acara partai dan bukan acara politik. Kata dia, acara ini digelar dalam masa tenang kampanye.

"Meski bukan acara politik, tapi kami di sini, selain ngaji kebangsaan, kami semua juga ikut mendoakan agar Pemilu 2019 ini berjalan damai, aman dan tentram," urainya.

Dijelaskan Gus Wildan, dalam acara ini, pihaknya juga mengajak sekaligus mengingatkan semua peserta yang hadir, santri dan santriwati untuk bisa menyambut pesta demokrasi dengan suka cita dan gembira.

Menurutnya, pencoblosan adalah sebuah pesta yang seyogjanya bisa dinikmati secara gembira dan suka ria. Bukan ajang sebagai pemecah belah bangsa dan saling serang untuk perang.

"Ini sebuah demokrasi yang sudah berjalan sejak lama. Sudah biasa, kalau calon presidennya ada dua. Jangan bermusuhan, kalau bisa saling berikhtiar untuk menentukan calon pemimpin ke depan. Insya Allah pemimpin yang terpilih nanti, adalah pemimpin yang dikehendaki allah SWT memimpin bangsa Indonesia ke depan. ayo sama - sama jaga persatuan dan perdamaian," pungkas dia.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved