Single Focus

Awalnya Ikut-ikutan, Akhirnya Cinta Bela Diri

Batasan maskulinitas dalam olahraga mulai kabur dengan banyaknya perempuan yang mendalami olahraga-olahraga berat ini.

Awalnya Ikut-ikutan, Akhirnya Cinta Bela Diri
surya.co.id/nuraini faiq
ilustrasi wanita dalam bela diri. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Batasan maskulinitas dalam olahraga mulai kabur dengan banyaknya perempuan yang mendalami olahraga-olahraga berat ini. Sebut saja muay thai, tinju, ski air, hingga judo.

Jenis-jenis olahraga yang tadinya sangat identik dengan laki-laki pun mulai mengalami pergeseran imej.

Ada berbagai alasan perempuan mengawali hobi maupun karir di bidang olahraga ini, mulai sekadar ikut-ikutan orang terdekat, membentuk tubuh, hingga belajar mempertahankan diri.

Atlet ski air, Galuh Mutiara M. (22) dan atlet judo Hevrilia Windawati (22), adalah dua perempuan yang memulai kiprahnya di dunia olahraga, karena terinspirasi keluarganya.

"Dulu mulai ikut ski air karena coba-coba main, soalnya kakak dulu juga main ski. Saya main ski air dari TK. Seperti lebih memacu adrenalin saja sih saya mikirnya, apalagi saya mainnya di nomor wakeboard yang gerakannya itu freestyle," tutur Galuh, Minggu (14/4).

Sedang Hevrilia didorong ayahnya yang mantan atlet gulat, untuk mengikuti judo.Bermula dari ikut-ikut ayahnya, peraih Juara 3 Judo SEA Games 2017 ini makin jatuh cinta dengan judo.

"Sebenarnya dorongan dari papa, saya hanya ikut-ikutan. Tetapi makin ke sini, makin suka karena judo kan ilmu bela diri. Ya kalau misalnya ada apa-apa, kita bisa membela diri sebagai perempuan," ujar Hevrilia.

Senada Hevrilia, Galuh juga menyetujui perempuan belajar olahraga apapun, karena pasti berdampak baik bagi perempuan dibanding menghabiskan waktu untuk nongkrong yang tidak jelas.

"Daripada kongkow-kongkow tetapi manfaatnya dikit, (lewat olahraga-Red) lebih bisa jaga diri juga, seperti muay thai misalnya," terang Galuh.

Ketika ditanya alasan di balik tingginya tren perempuan mengikuti olahraga yang didominasi laki-laki ini, Hevrilia mengatakan, memang sedang musim dan banyak yang coba-coba karena terlihat keren.

Zaman sekarang, akunya, banyak sekali tindak kejahatan, sehingga pasti banyak perempuan yang ingin bisa melindungi dirinya sendiri.

Galuh menyetujui adanya efek sosial di mana kesadaran masyarakat makin tinggi terkait olahraga ekstrem yang rupanya tak hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Hadapi kesulitan

Meski begitu, menurut peraih Gold Medal Womens Wakesurf Kejurnas Ski Air 2018 ini, perempuan kerap mendapati kesulitan tersendiri untuk hal-hal di luar olahraga.

"Ada plus-minusnya sih. Sulitnya terkadang karena anak perempuan ya, kadang baper rindu mama ketika pertandingan. Sulit juga bagi waktu antara pendidikan sama latihan, lalu sulit milih baju kalau mau ke pernikahan, soalnya kadang kulit belang bekas terbakar matahari," papar mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved