Sosok

Iswati, Srikandi Cantik Pemadam Api ini Rela Dicibir

Iswati, alumnus Teknik Sistem Perkapalan ITS ini tidak kenal lelah mengedukasi masyarakat agar tanggap bencana kebakaran

Iswati, Srikandi Cantik Pemadam Api ini Rela Dicibir
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
Iswati 

SURYA.co.id | SURABAYA - Iswati, alumnus Teknik Sistem Perkapalan ITS ini tidak kenal lelah mengedukasi masyarakat agar tanggap bencana kebakaran. Perempuan ini tak peduli meski banyak yang mencibirnya saat memberi tahu cara memadamkan api.

Perempuan cantik kelahiran Surabaya, 5 April 1985 ini kerap memberi semacam pelatihan ringan atau praktik tutorial. Apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran.

Bagaimana pula cara sederhana memadamkan api. Kelihatannya sepele tapi bisa mengutangi dampak fatal.

"Segera menjauh dari api dan hubungi command Center 112 atau petugas pemadam," ucap perempuan yang pernah menjadi Srikandi Baruna atau Srikandi api ini.

Mantan pegawai kontrak Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya ini ingin memberikan ilmu yang dia miliki kepada warga Kota Surabaya. Dia melanjutkan, sambil menunggu petugas pemadam segera lakukan tindakan tanggap darurat kebakaran.

Sebisa mungkin padamkan api dengan cara sederhana sesegera mungkin. Jika yang terbakar semacam kompor gas dan sejenisnya, ambil goni atau lain gombal yang dibasahi. Tutupkan ke arah sumber api.

"Ingat, cara menempelkan kain basah tangan harus berada di balik kain itu. Bukan telapak tangan di arah depan api," kata perempuan yang kini akan maju sebagai calon anggota DPRD Kota dari PDIP ini. 

Sudah puluhan kali, Iswati keliling kampung untuk mengajak warga tanggap kebakaran. Perempuan yang tinggal di Putat Gede itu tidak malu kerap harus membawa potongan drum dan kain goni. Ini digunakan untuk melakukan tutorial pemadaman api.

Menurutnya simulasi seperti itu harus sering dilakukan terutama dipemukiman padat penduduk. Sebab sangat bermanfaat sekali bagi warga. 

Tidak terhenti di situ, dia juga membagi ilmu lagi. Saat kebakaran listrik yang harus dilakukan adalah menyemburkan pasir, bubuk, bedak, atau tepung dan sejenisnya. Bukan menyiram air. Sebab jika air bisa rentan menghantarkan listrik. 

Tidak jarang Alumnus ITS ini dicibir. "Awalnya memang masyarakat tifak percaya bahwa perempuan bisa memadamkan api. Saya tidak hanya bicara saya tunjukkan. Warga akhirnya percaya dan sebaliknya merasa berterima kasih," katanya.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved