Berita Pasuruan

Abdul Karim, Pioner Petani Kopi Asal Pasuruan, Belajar Banyak dari Kegagalan

Abdul Karim adalah salah satu sosok pejuang kopi asli Pasuruan. Ia sudah memulai bermain di dunia kopi sejak 1997

Abdul Karim, Pioner Petani Kopi Asal Pasuruan, Belajar Banyak dari Kegagalan
istimewa
Abdul Karim, petani kopi Kabupaten Pasuruan 

SURYA.co.id | PASURUAN - Terlepas dari persoalan Kopi Asli Kabupaten (Kapiten) Pasuruan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan, ada sosok pejuang kopi asal Pasuruan yang justru kiprahnya sangat terkenal di dunia kopi kancah nasional. Dia adalah Abdul Karim.

Abdul Karim adalah salah satu sosok pejuang kopi asli Pasuruan. Ia sudah memulai bermain di dunia kopi sejak 1997. Di saat temannya menanam lainnya, ia justru menanam kopi. Bahkan, sempat ada ejekan dan cacian dari temannya karena ia memilih kopi untuk ditanam di lahannya.

"Saya diejek karena selama ini belum ada yang menanam kopi diantara teman petani lainnya. Saya belajar secara otodidak dari petani kopo sebelumnya," jelasnya.

Ia menceritakan, bisnis dalam dunia tanam kopi tak semulus yang dibayangkannya. Ia harus jatuh bangun, terutama di awal-awal bisnis kopi.

Panen pertama, kedua, sampai ketiga itu aman. Setiap tahun, kopi panen sekali. Nah, di masa panen keempat, ia mulai goyang. Puncaknya di tahun kelima.

"Tahun kelima saya nyaris berhenti jadi petani kopi. Saya bangkrut. Kopi saya gagal panen. Setelah saya cari tahu, ternyata ada salah dalam penangannya. Jadi, kopi tidak mau berbuah dan mengembang. Perlu ada perawatan dan sentuhan khusus setelah panen," katanya.

Ternyata, penanganannya paska panen tidak benar. Itu menjadi penyebab utama, kopinya gagal panen. Tanaman kopi perlu dipangkas, dirawat setelah panen.

"Kalau dibiarkan tidak ada regenerasi. Jadi, akhirnya ya itu, sekali, dua kali sampai tiga kali panen, selesai. Tidak berkelanjutan. Dari situ saya mulai belajar untuk menjadi petani kopi yang lebih baik. Saya kira kegagalan adalah pengalaman yang berharga untuk menyongsong masa depan," urainya.

Kini, ia sudah bisa panen sekitar 10-12 ton setiap tahunnya. Jika diuangkan, per tahun, ia bisa mendapatkan untung yang lumayan besar, kisaran Rp 120-150 juta. Ia sudah menjadi pionir kebangkitan Kopi di Kabupaten Pasuruan.

Tak hanya itu, sederet penghargaan pun pernah disabet pria yang tinggal Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini. Di antaranya adalah tahun 2012 Juara 1 Jawa Timur , Juara cita rasa kopi robusta.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved