Citizen Reporter

Oleh-oleh Pendidikan dari Jepang, Pendidikan Karakter Unggul di Beberapa Hal ini 

Oleh-oleh pendidikan dari Jepang, pendidikan karakter unggul di beberapa hal ini yang meliputi budaya tertib, disiplin, dan budaya malu. 

Oleh-oleh Pendidikan dari Jepang, Pendidikan Karakter Unggul di Beberapa Hal ini 
foto: istimewa
Dendys Darmawan, Kepala MI Unggulan Darusalam Ponggok Blitar yang baru pulang studi banding dari Kindergarten, Elementary, and Junior High of Mushasino Gauken School Jappan membagi pengamatannya. 

GURU kehilangan hak mengajarnya ketika ia berhenti belajar, menurut Adi W Gunawan. Kalimat itu terlontar dari salah satu peserta perempuan yang hadir dalam Temu Pendidik (MuDik) ke-11 Komunitas Guru Belajar (KGB) Blitar.

Berbagi ilmu kali itu bertema Lessons from Japan, Minggu (24/2/3019) sekira pukul 09.30 di ruang FKIP Kampus 1 Universitas Islam Balitar.

Dendys Darmawan, Kepala MI Unggulan Darusalam Ponggok Blitar yang baru pulang studi banding dari Kindergarten, Elementary, and Junior High of Mushasino Gauken School Jappan membagi pengamatannya.

Saat Dendys berbagi cerita pengalaman studi banding di Jepang, terlihat sekitar dua puluhan peserta menyimak, dan beberapa di antaranya mencatat pada buku kecil.

Ia menyampaikan cerita dengan sangat rinci dan lengkap dengan video kegiatan yang bisa dilihat di layar LCD. Itu membuat peserta dibawa larut dengan suasana latar pendidikan di Jepang.

“Beberapa keunggulan pendidikan di Jepang yang sangat menonjol adalah pendidikan karakter yang meliputi: ramah, tertib, disiplin, dan budaya malu. Selain itu, Jepang juga sangat peduli kebersihan. Semua sangat bersih, tidak ada jaring laba-laba,” kata Dendys.

Setiap hari siswa membawa 2 kain lap, satu kain lap digunakan untuk membersihkan barang pribadi, meja dan tempat duduknya, sedang satu kain lainya digunakan untuk membersihkan lantai. Dalam satu lingkup sekolah hanya terdapat satu petugas kebersihan.

Selanjutnya, tugas lain diserahkan kepada guru dan siswa dengan cara membersihkan bersama ruang kelas setelah dipakai kegiatan.

Dendys menjelaskan, profesi guru di Jepang sangat dihargai dan menjanjikan. Guru mendapatkan gaji jika dikurskan ke rupiah sebesar Rp 40 juta setiap bulannya.

Guru wajib datang 1 jam sebelum jam pelajaran. Sebelum memulai kegiatan juga diawali dengan briefing oleh kepala sekolah kepada seluruh guru yang bertujuan untuk menyamakan frekuensi sesuai visi misi sekolah. Selain itu, guru juga harus pulang pukul tujuh malam guna menyiapkan pembelajaran untuk hari yang akan datang.

Dandys juga menegaskan, guru di Jepang adalah manusia pembelajar karena selalu intensif mengikuti pelatihan-pelatihan internal untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya, sehingga kualitas guru semakin lama semakin meningkat.

Kurikulum pendidikan lebih berfokus pada lifeskill dan pendidikan dari hati. Perangkat pembelajaran pun betul-betul aplikatif dan tidak terlalu rumit secara administratif sehingga lebih efektif diterapkan saat mengajar.

Tanya jawab setelah materi menjadi saat yang paling menarik. Pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan santai dan saling menambahkan pendapat. Beberapa makanan ringan dan minuman menemani saat perbincangan hingga pada akhirnya tidak terasa tiga setengah jam berlalu begitu cepat.

Hendra Burhanudin
Komunitas Guru Belajar Blitar
hendratokey@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved