FMCG Masih Dikuasai Pasar Tradisional

Perdagangan Fast Moving Consumer Goods atau produk yang memiliki perputaran omset dengan cepat di Indonesia, masih dikuasai oleh pasar tradisional

FMCG Masih Dikuasai Pasar Tradisional
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Vice President Bank Mandiri Regional Surabaya, Atta Alva Wanggai (dua dari kanan) membuka dialog dengan tema Pesaingan Pasar Tradisopnal VS Pasar Modern dalam Perdagangan FMCG di Hotel Kampi Surabaya, Senin (1/4/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perdagangan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau produk yang memiliki perputaran omset dengan cepat di Indonesia, masih dikuasai oleh pasar tradisional.

Menurut data yang disampaikan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), penguasaan pasar terhadap FMCG mencapai 72 persen.

"Sementara minimarket sebesar 22 persen dan sekitar 6 persen adalah supermarket," kata Abraham Ibnu, Koordinator Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Wilayah Timur Pusat, saat menjadi salah satu pembicara dalam Forum Group Discussion (FGD), "Persaingan Pasar Tradisional VS Modern dalam Perdagangan FMCG" yang digelar Bank Mandiri dan Forum Jurnalis Ekonomi Bisnis Surabaya (FORJEBS) di Hotel Kampi, Senin (1/4/2019).

Menurut Ibnu, tingginya transaksi di pasar tradisional terjadi karena produsen makanan atau minuman, lebih suka berbisnis dengan pedagang di pasar tersebut. Mereka langsung mendapatkan uang tunai dari pedagang. Uang tunai ini penting untuk memastikan keberlangsungan usaha

"Kalau produsen mengirim barang ke toko modern, tidak langsung dibayar. Tapi harus menunggu sebulan setelahnya," tambah Abraham.

Saat ini tidak perlu diperbincangkan lagi terkait keberadaan pasar modern yang dianggap mengganggu pasar tradisional.

Dari kedua pasar ini memiliki potensi pasar masing-masing dan bukan bersaing. Selain itu, keduanya juga memiliki regulasi yang berbeda.

"Justru yang ada sekarang, banyak aturan yang membatasi pasar modern. Sementara untuk aturan pasar tradisional lebih longgar," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Vice President Bank Mandiri Regional Surabaya, Atta Alva Wanggai, mengatakan bila secara nasional pertumbuhan FMCG naik 6,5 persen. "Kami tahun ini juga lebih mendorong penetrasi market FMCG. Sepanjang 2018, bank Mandiri menyalurkan kredit di sektor FMCG sebesar Rp 21,3 triliun. Dengan komposisi home cell sebesar 90 persen dan ritel (pedagang sembako) sebesar 5 persen," jelas Atta.

Sementara itu, penjualan FMCG di Jawa Timur berdasarkan data AC Nielsen, memberikan andil sekitar 14,5 persen terhadap total penjualan barang konsumsi ritel nasional.

FMCG di Jatim, merupakan salah satu sektor potensial mengingat jumlah penduduk di wilayab ini mencapai 39,3 juta jiwa dan kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 59,3 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim.

Hal ini semakin diperkuat dengan keuntungan letak geografis yang strategis dalam perdagangan antar pulau.

"Menjadi sektor primadona, perdagangan FMCG justru melahirkan persaingan yang ketat sebagai tantangan utama. Dengan jenis produk yang cukup homogen, persaingan muncul antar pemain dalam multi format dan segmen perdagangan. Dapat kita lihat isu klasik persaingan pasar tradisional dan modern," ungkap Atta.

Persaingan antar pasar tradisional dan modern pada akhirnya menuntut pelaku usaha untuk melakukan berbagai upaya efisiensi di tengah naiknya biaya operasional seperti upah karyawan, tarif sewa ruang ritel, dan biaya utility (terutama listrik) guna mempertahankan profitabilitas. Selain itu, inovasi dan peningkatan pelayanan juga dibutuhkan untuk menarik konsumen secara optimal.

Meskipun perdagangan FMCG melalui channel perdagangan umum atau tradisional saat ini masih mendominasi, peningkatan kontribusi perdagangan FMCG melalui channel modern terbilang cukup pesat.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved