Grahadi

Gubernur Khofifah Dukung Pemanfaatan Tetes Tebu Menjadi Bioetanol

Gubernur Khofifah menjelaskan, berdasarkan data yang diperoleh potensi tetes tebu yang dioalah menjadi ethanol baru sekitar 10%

Gubernur Khofifah Dukung Pemanfaatan Tetes Tebu Menjadi Bioetanol
Ist/Humas Pemprov Jatim
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat menerima audiensi Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (29/03/2019) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mendukung pemanfaatan tetes tebu menjadi bioetanol. Apalagi, bioetanol merupakan salah satu bentuk energi terbarukan yang ramah lingkungan dan kandungan oktannya lebih tinggi daripada fossil fuel.

“Bioetanol merupakan salah satu bentuk energi baru terbarukan yang secara ekonomis bisa dikembangkan,” terang Khofifah sapaan akrab Gubernur Jatim saat menerima audiensi Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (29/03/2019).

Gubernur Khofifah menjelaskan, berdasarkan data yang diperoleh potensi tetes tebu yang dioalah menjadi ethanol baru sekitar 10%. Oleh sebab itu, pihaknya ingin segera ada roadmap terkait penguatan bioethanol di Jatim.

“Pemanfaatan bioetanol diupayakan menggunakan teknologi yang efektif, sehingga bisa memberi nilai tambah bagi petani,” ungkapnya sembari menambahkan potensi bioetanol tidak hanya dari tetes tebu tapi juga dari umbi-umbian yang juga melimpah di Jatim.

Untuk percepatan, Gubernur Khofifah meminta untuk segera dilakukan identifikasi potensi pabrik gula (PG) yang ada di Jatim dalam mengolah tetes tebu. Hal ini penting dilakukan untuk mendorong pengolahan tetes tebu pada pabrik tidak hanya digunakan untuk pupuk, pakan ternak, ataupun vetcin.

“Dalam waktu dekat kita perlu rapat terbatas dengan pabrik gula (PG) dan PTPN yang ada di Jatim. Serta harus ada daerah yang dijadikan pilot project terkait pemanfaatan bioethanol,” urai gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Lebih lanjut disampaikan, ke depan harus ada perhitungan terkait pemasaran bioetanol sehingga ketika daya beli masyarakat tidak memenuhi, maka akan ada subsidi dari pemerintah. Selain itu, harus ada kepastian apakah perusahaan pengelola minyak dan gas bumi mau membeli bioetanol yang telah dihasilkan.

“Energi terbarukan ini perlu mendapat public service oblogation (PSO), apalagi di Indonesia baru sedikit yang menyadari pentingnya energi terbarukan,” ujarnya sembari menegaskan bahwa dirinya bersedia untuk membawa konsep ke kementrian terkait dengan modal data yang lengkap.

Gubernur Khofifah berharap, koordinasi dan komunikasi antar berbagai pihak terkait terus dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatn tetes tebu sebagai bioetanol. Apalagi,pihaknya baru saja mengusulkan Raperda tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi (RUED-P) Jatim tahun 2019-2050.

“Kita ingin ini menjadi usaha bersama, juga untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat energi terbarukan seperti bioetanol ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Perwakilan tim Setjen Wantannas Irjen Pol. Indra Miza mengatakan, Jatim sengaja dipilih oleh Wantannas sebagai pilot project penggunaan bahan bakasr bioetanol berbasis tebu. Hal ini ditunjang oleh besarnya potensi tebu yang ada di Jatim.

“Sebelumnya pemanfaatan tebu sebagai bioetanol ini telah dicoba di PTPN X, dan hasilnya sungguh luar biasa,” terangnya.

Ditambahkan, jika program ini bisa dijalankan dengan sukses di Jatim maka akan tercipta ketahanan energi di Indonesia. Selain itu, pihak Wantannas juga sudah membuat roadmap dan format terkait pemanfaatan bioetanol.

“Pihak Pertamina juga sudah ada kesiapan terkait pemanfaatan bioetanol. Oleh sebab itu, kami akan terus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk kesuksesan pilot project ini,” urainya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, perwakilan Setjen Wantannas, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Prov. Jatim, serta beberapa kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim. (hms)

Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved