Bila Lolos ke Senayan, Caleg Golkar Andi Budi Sulistijanto Siap Gelar Seribu Majelis Taklim

Caleg DPR RI dari partai Golkar, Andi Budi Sulistijanto ingin ada seribu majelis taklim bila nanti dia lolos ke Senayan.

Bila Lolos ke Senayan, Caleg Golkar Andi Budi Sulistijanto Siap Gelar Seribu Majelis Taklim
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Calon Legislatif Partai Golkar, dari daerah pemilihan Surabaya dan Sidoarjo, Andi Budi Sulistijanto menyiapkan program pembinaan terhadap seribu majelis taklim dan yasin tahlil. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Politisi Partai Golkar, Andi Budi Sulistijanto mendukung masyarakat untuk senantiasa menggelar Majelis Taklim dan Yasin-Tahlil. Hal ini sekaligus sebagai antisipasi berbagai paham radikal, termasuk teror bom yang masih sering menjadi ancaman.

Calon Legislatif untuk DPR RI ini mencontohkan peristiwa Sibolga Sumatera Utara. Hal ini menjadi alarm pengingat bahwa penganut radikalisme di Indonesia belum sepenuhnya bisa diatasi.

Menurutnya, hal ini bisa diantisipasi dengan cara berkumpul dalam majelis taklim atau yasin tahlil. Sebab, masyarakat ikut berperan dalam menjaga lingkungan sosialnya agar tetap kondusif.

"Masyarakat harus peka terhadap tetangga, jangan dimusuhi, diajak bicara. Kegiatan ini positif yang bisa diikuti oleh siapa saja, dibudayakan dan ditradisikan serta dikembangkan,” kata Andi Budi ketika dikonfirmasi di Surabaya, Minggu (24/3/2019)

Wakil Ketua Lakpesdam PBNU ini mengaku telah menyiapkan program pembinaan terhadap seribu majelis taklim dan yasin tahlil. Hal ini tersebar di kawasan Surabaya dan Sidoarjo, daerah yang menjadi wilayah daerah pemilihannya tersebut.

Kegiatan majelis taklim dan yasin tahlil yang diadakan di rumah-rumah warga atau di luar masjid dan musholla.

"Mereka akan bersinergi untuk memantau lingkungan. Kalau lingkungannya nggak kondusif masyarakat yang akan rugi sendiri,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Gus Andi ini menegaskan bahwa ajakan memerangi radikalisme sejalan dengan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) an-nahdliyah yang memiliki empat prinsip dasar. Yakni, tawasuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), ta’adul (tegak lurus atau adil), dan tasamuh (toleransi).

Nilai tawasuth mengajarkan masyarakat agar tidak terjebak kepada paham yang esktrim. "Sementara, tawazun itu berimbang. Kita punya pedoman al-quran dan al-hadits, ijma’ dan qiyas, kita juga harus pakai akal sehat," katanya.

"Menghardik orang tua tidak boleh, lebih dari itu akal sehat kita tidak boleh, misal membunuh orang tua. Akal sehat ini bisa mengimbangi dalam hidup dan bernegara,” jelasnya.

Ketua DPP Partai Golkar bidang keagamaan dan ormas agama ini menjelaskan bahwa, nilai toleransi dan adil dalam berbangsa dan bernegara juga tidak kalah pentingnya. Apalagi Indonesia menjadi Negara yang dipenuhi dengan berbagai suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda.

“Maka tasamuh (toleranasi) ini penting. Sebab, selama ini banyak ras, suku, dan agama. Hal ini akan sekaligus menjadikan masyarakat tetap rukun tidak mudah terpancing oleh provokasi,” tukasnya. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved