Berita Surabaya

Risma Pamer Startup Arek Suroboyo dan e-Government di Seminar Nasional Revolusi Industri 4.0

Risma memamerkan startup buatan anak muda Surabaya yang berkembang melebihi ekspektasinya, yakni Redblood buatan Leonika Sari

Risma Pamer Startup Arek Suroboyo dan e-Government di Seminar Nasional Revolusi Industri 4.0
SURYA.co.id/Delya Octovie
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berbagi tentang start up dan Surabaya Smart City di acara Revolusi Industri 4.0 Indonesia oleh Komunitas Alumni Perguruan Tinggi Jatim di Hotel Wyndham, Surabaya, Sabtu (23/3/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagai keynote speaker di acara Seminar Nasional Revolusi Industri 4.0 Indonesia yang digelar oleh Komunitas Alumni Perguruan Tinggi Jawa Timur di Hotel Wyndham, Surabaya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memaparkan apa saja langkah-langkah yang sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Yang sudah dilakukan oleh Pemkot, adalah mengembangkan startup karya Arek Suroboyo, serta menerapkan e-Government.

Ia pun memamerkan startup buatan anak muda Surabaya yang berkembang melebihi ekspektasinya, yakni Redblood buatan Leonika Sari, dan Karapan kreasi Tamam.

"Jadi bapak ibu sekalian, bisa ternyata kita membuat usaha yang mungkin memang nggak terbayangkan, seperti Redblood. Yang paling kelihatan, memang seolah-olah pertanian itu nggak keren, tapi ternyata kemudian kalau dikelola dengan baik, Karapan itu luar biasa progresnya," tuturnya, Sabtu (23/3/2019).

Dengan adanya startup-startup ini, ia menegaskan ini berarti peluang mengawinkan usaha dan teknologi itu sangat ada.

Risma lalu berusaha mengaplikasikannya pada layanan publik Pemkot Surabaya, yakni e-Government.

"Ini yang saya coba lakukan di Surabaya. Kita memberi fasilitas kurang lebih 1.900 free wi-fi. Pak RW dikasih juga karena seluruh layanan kami elektronik, kalau nggak pakai wifi susah dia ngaksesnya. Jadi kami memberi sambungan ke pak RW, kurang lebih ada 3.700 yang gratis," paparnya.

Ketua RW juga bisa membantu warganya yang tidak memiliki akses internet ataupun yang gagap teknologi, untuk menggunakan e-Government dengan memanfaatkan wifi gratis ini.

Ia kemudian menjelaskan e-Government memiliki tiga bahasa, yakni Indonesia, Jawa dan Madura, yang kemudian disambut tepuk tangan oleh audiens.

Di dalamnya, ada layanan seperti e-Health, Surabaya Single Window, dan e-Lampid.

Bambang Yudho Pramono, Sekretaris Jendral Komunitas Alumni Perguruan Tinggi Jawa Timur, menyebut tantangan revolusi industri 4.0 adalah bagaimana komunitas bisa memiliki sesuatu untuk dibagikan, dimanfaatkan dan dilakukan oleh masyarakat.

"Salah satunya program pemerintah ke depan yang konsentrasi dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Infrastrukturnya sudah ada, seperti tol dan jaringan komunikasi. Kalau SDM-nya nggak ditata, sayang, nilai manfaatnya nggak digunakan atau diberdayakan secara maksimal. Akhirnya hanya sekedar mainan," ujarnya.

Ia mengatakan, pencapaian Surabaya patut ditiru oleh daerah lain, sehingga masyarakat Papua, misalnya, jika memiliki produk, akan bisa dipasarkan secara cepat dan mudah melalui internet.

Belum lagi bila mengikuti tren startup.

"Artinya kita harus mampu meraih memenangkan persaingan ke depan, menguasai teknologi," tutupnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved