Meski Sudah Surut, BPBD Tetap Waspadai dan Pantau Banjir di Wonoasri Jember

Meski sudah surut, banjir yang melanda Desa Wonoasri, kecamatan Tempurejo, Jember, masih terus dipantau oleh BPBD Kabu[aten Jember.

Meski Sudah Surut, BPBD Tetap Waspadai dan Pantau Banjir di Wonoasri Jember
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Banjir di Wonasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember. 

SURYA.co.id | JEMBER - Banjir yang melanda Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember berangsur surut, Minggu (17/3/2019) sore.

Meski begitu petugas gabungan tetap siaga dan waspada mengingat masih berpotensi turun hujan di wilayah Jember.

Berdasarkan pengamatan dan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jumlah rumah terdampak banjir di Dusun Kraton mencapai 255 rumah. Sedangkan data Palang Merah Indonesia (PMI) Jember yang juga melakukan assessment, ada 270 rumah terdampak. Semuanya berada di enam RW di Dusun Kraton yakni RW 01, 02, 03, dan 04.

Banjir di kawasan itu disebut sebagai banjir kiriman mengingat kawasan itu merupakan kawasan hilir daerah aliran sungai Mayang dan Gladak Putih yang kemudian melintasi Desa Wonoasri. Sungai di Dusun Kraton meluap karena mendapatkan kiriman dari Sungai Gladak Putih yang berada di kawasan Curahnongko, Tempurejo.

Sungai itu meluap semenjak pukul 05.00 Wib, dan meluber ke jalanan dan permukiman warga. Genangan paling tinggi mencapai 1 meter. Tetapi menjelang sore sekitar pukul 15.00 Wib, ketinggian air mulai surut.

"Sekarang paling tinggi sekitar 70 centimeter. Meskipun mulai surut, kami tetap waspada dan terus memantau situasi," ujar Wakil Ketua II PMI Jember, Mamang Pratidina kepada Surya, Minggu (17/3/2019).

BPBD Jember bersama sejumlah elemen lain seperti Tagana, PMI, Polri, dan TNI telah membuat posko dan dapur umum di Balai Desa Wonoasri. Ribuan nasi bungkus juga didistribusikan kepada warga yang rumahnya terdampak banjir.

Meskipun ada ratusan rumah terkepung banjir, tidak banyak rumah yang sampai kemasukan air. Sebab warga setempat mendesain rumahnya dengan teras tinggi, akibat kawasan itu merupakan kawasan langganan banjir.

"Memang ada yang masuk sampai ke rumah. Itu yang terasnya tidak didesain tinggi. Ada beberapa rumah yang kemasukan air, dan lebih banyak yang terkepung air karena pelatarannya dimasuki air sampai selutut orang dewasa," imbuh Mamang.

Selama musim hujan, banjir genangan ini merupakan banjir kedua kalinya. Sebelumnya, pernah sekali banjir namun hanya menggenangi jalanan dusun setempat. Kali ini banjir genangan lebih besar dari sebelumnya setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu dan hilir kawasan itu pada Sabtu (16/3/2019) malam.

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved