Kasat Lantas Polresta Sidoarjo : 'Polisi Lalu Lintas Bukan Dukun'

Polisi lalu lintas bukan dukun. Mereka tidak akan tahu pengendara yang melintas itu membawa surat kendaraan dan SIM atau tidak.

Kasat Lantas Polresta Sidoarjo : 'Polisi Lalu Lintas Bukan Dukun'
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Polisi saat menindak pelanggar lalu lintas di Sidoarjo. Petugas fokus penindakan terhadap pelanggaran-pelanggaran kasat mata, seperti helm dan perlengkapan kendaraan. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Polisi lalu lintas bukan dukun. Mereka tidak akan tahu pengendara yang melintas itu membawa surat kendaraan dan SIM atau tidak. Tapi jika pengendara tidak pakai helm atau kelengkapan kendaraanya kurang, jelas polisi bisa langsung tahu bahwa itu melanggar.

Demikian kata Kasat Lantas Polresta Sidoarjo, Kompol Fahrian Saleh Siregar di sela kesibukannya, Jumat (15/3/2019).  Apalagi, sekarang ini sedang digenjot program penertiban pelanggar lalu lintas dengan hunting sistem.

"Hunting system beda dengan stasioner. Kalau stasioner itu bentuknya operasi dengan dipasang palang dan semua pengendara yang melintas dihentikan. Sementara hunting system, petugas bergerak sambil memantau, kemudian langsung menindak jika melihat ada pelanggaran," ungkap Fahrian.

Karena itu, disebut dia, polisi tidak akan tahu pengendara itu melanggar atau tidak jika kelengkapan kendaraanya sesuai, memakai helm, sabuk pengaman dan sebagainya. "Karena polisi bukan dukun," tandasnya.

Dalam hunting system, ada tujuh item yang menjadi sasaran utama. Di antaranya adalah pengendara yang menggunakan ponsel saat berkendara, melawan arus, pengendara belum cukup umur, tidak menggunakan helm SNI, berboncengan lebih dari satu, kelebihan kapasitas angkut, dan kendaraan yang mengunakan rotator atau sirene.

Nah, di Sidoarjo yang sedang fokus ditertibkan adalah pengendara melawan arus, tidak pakai helm dan kelengkapan kendaraan. Ini pelanggaran kasat mata, yang semua orang bisa tahu.

Hotel Tempat Ketum PPP Ditangkap KPK Ada di Seberang Kantor TKD Jokowi-Maruf Amin

"Mereka yang tidak pakai helm, melawan arus dan sebagainya itu seperti memanggil polisi. Seolah meminta untuk ditilang karena petugas sudah kami wajibkan untuk menindak semua pelanggaran yang terlihat. Jika tidak membawa surat tilang, wajib menghentikan dan memberi peringatan," urai mantan Kasi STNK Subdit Regident Ditlantas Polda Jatim tersebut.

Dengan gencarnya penindakan yang dilakukan, diharapkan warga Sidoarjo semakin tertib dalam berlalulintas. Kemudian, warga luar juga akan berpikir dua kalau untuk tidak tertib saat di Sidoarjo.

Jika pengendara semakin tertib, jangka panjangnya angka kecelakaan juga diyakini bakal menurun. Atau setidaknya, fatalitas akibat kecelakaan bakal menurun seiring tertibnya pengguna jalan.

Data di Satlantas Polresta Sidoarjo menyebut, angka pelanggaran lalu lintas masih didominasi sepeda motor. Jumlahnya, pada Januari 2019 ada 10.623 dan pada Februari ada 12.195 sepeda motor kena tilang. Di susul St wagon sebanyak  116 pada Januari dan  413 pada Februari. Disusul truk, pada Januari 191 dan Februari 68 yang melanggar.

Polisi sendiri sangat getol melakukan penindakan. Angkanya, sepanjang Januari terhitung ada 11.250 tilang dan Februari terdapat 13.050 tilang. Sementara teguran ada 375 pada Januari dan 445 di bulan Februari.

Angka pelanggarannya, tertinggi adalah berkendara tanpa menggunakan helm. Pada Januari asa 3.127 pelanggaran dan Februari sebanyak 3.834 pelanggaran. Kemudian pengendara tidak bawa SIM 3.177 pada Januari dan 4.766 pada Februari.

Pelanggaran marka jalan, pada Januari sebanyak 1.175 dan Februari 366 pelanggaran. Kemudian pelanggaran kelengkapan kendaraan pada Januari 1.029 dan Februari sebanyak 975 pelanggaran.

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved