Polisi Grebek Pabrik Makanan Ringan yang Pakai Tawas dan Bahan Baku Kadaluwarsa di Sidoarjo

Polisi menggrebek sebuah industri rumahan makanan ringan yang diduga menggunakan bahan baku tawas dan penyedap rasa kadaluarsa dalam produksinya.

Polisi Grebek Pabrik Makanan Ringan yang Pakai Tawas dan Bahan Baku Kadaluwarsa di Sidoarjo
tribun jatim/kukuh kurniawan
Polisi menunjukkan sejumlah barang bukti yang diamankan dari sebuah pabrik makanan ringan di Kecamatan Taman, Sidoarjo, yang diduga menggunakan tawas dan bahan kadaluwarsa lain dalam produksinya. 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan.

SURYA.co.id | SIDOARJO - Polisi menggrebek sebuah industri rumahan makanan ringan yang diduga menggunakan bahan baku tawas dan penyedap rasa kadaluarsa dalam produksinya. 

Perusahaan itu berada di Desa Tanjungsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. 

Dir Reskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan, mengatakan industri rumahan bernama UD. Davis tersebut tak memiliki ijin, baik izin terkait industri dan maupun terkait kesehatan dan keamanan pangan.

"Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, ternyata diketahui industri makanan ringan jenis pilus tersebut ditemukan memakai bahan berbahaya dalam produksinya. Yaitu tawas serta bahan perasa yang telah kadaluarsa," jelasnya kepada awak media, Kamis (14/03/2019).

Ia menjelaskan, tawas adalah bahan yang dipakai untuk menjernihkan air.

Ahmad menambahkan, perusahaan ini telah berdiri selama tiga tahun dan memiliki omzet hingga Rp300 juta per bulan.

"Kami akan melakukan pengecekan distribusi makanan ringan karena diketahui wilayah pemasarannya Jawa Timur. Dan kami akan berkoordinasi dengan dinas untuk melakukan penarikan makanan ringan tersebut," tambahnya

Pihaknya pun  mengatakan telah menetapkan tersangka berinisial D yang merupakan pemilik perusahaan.

"Untuk pasal yang disangkakan ada dua. Yaitu pasal 120 UU No. 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian dengan ancaman pidana 5 tahun serta pasal 142 UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan dengan pidana 2 tahun," bebernya.

Ia pun akan menelusuri lebih lanjut apakah ada keterlibatan pihak lain. Mengingat berbagai bahan perasa kadaluarsa diambil dari luar.

"Kami akan dalami lebih lanjut apakah ada tempat khusus yang menampung bahan tersebut. Dan kami menghimbau agar masyarakat waspada dan hati hati mengkonsumsi makanan yang demikian," tandasnya.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved