Citizen Reporter

Pameran Tunggal "I Hope" di Neka Ruang Kopi Bangkalan, Melukis Tidak harus di Kanvas

Anas Hope bersama Mata Pena Art, seniman muda asal Bangkalan itu menggagas karyanya dengan menyelenggarakan pameran tunggal yang berjudul I Hope.

Pameran Tunggal
foto: istimewa
Anas Hope bersama Mata Pena Art menyelenggarakan pameran tunggal berjudul I Hope di Neka Ruang Kopi Bangkalan, Sabtu-Senin (2-4/3/2019). 

Beragam gagasan tidak hanya bisa disampaikan melalui tulisan. Melalui karya seni rupa, gagasan atau ide juga dapat dikemas secara menarik dan nyentrik. Karya seni rupa bisa dinikmati, diapresiasi dan dikomunikasikan kepada masyarakat melalui pameran.

Itu seperti yang dilakukan Anas Hope bersama Mata Pena Art. Seniman muda asal Bangkalan itu menggagas karyanya dengan menyelenggarakan pameran tunggal yang berjudul I Hope, Sabtu-Senin (2-4/3/2019) di Neka Ruang Kopi Bangkalan.

Neka Ruang Kopi juga menjadi alternatif space, sebagai pembuktian, pameran bisa dilakukan di mana pun. Masih banyak ruang di Bangkalan yang mendukung acara kesenian semacam itu.

Acara diselenggarakan dengan tujuan untuk memotivasi masyarakat tentang betapa bernilainya apresiasi karya seni untuk pelaku seni dan juga memotivasi pelaku seni agar tetap bersinergi dalam kegiatan kesenian. Ternyata masyarakat Bangkalan antusias dalam mengapresiasi karya seni.

Jumlah pengunjung pameran telah melebihi pengunjung yang ditargetkan. Minat masyarakat Bangkalan tentang betapa bernilainya karya seni tentunya dapat diukur dari antusiasme mereka dalam menghadiri acara kesenian seperti itu.

Anas Hope mengemas idenya dengan unik menggunakan media tote bag. Seni visual tidak hanya persoalan melukis di kanvas atau menggambar di kertas, tetapi dapat diaplikasikan ke media lain.

Rangkaian acara pada pameran tunggal itu memberi wadah bagi masyarakat untuk belajar costume tote bag dan handmade sticker. Tidak hanya itu, ada artist talk dari Serikat Mural Surabaya, mural jamming dan graffiti jamming dari Komunitas Mural Bangkalan (Kumbang). Hal itu adalah upaya untuk menerabas materi yang lama yang menyatakan melukis dapat dilakukan di media apapun.

“Jangan membelenggu diri sendiri. Apa pun medianya, kita harus bertanggung jawab dengan karya kita. Semoga ke depannya bisa memotivasi penikmat dan pelaku seni agar berkembang di dunia kesenian salah satunya seni rupa,” kata Anas, Senin (4/3/2019).

Fatwa Amalia Rahmawati
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Trunojoyo Madura
Arfatwa5@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved