Citizen Reporter

Kulaih Tamu Dosen Australian National University, Media Digital Penting dengan Akses Internet Kuat

Media besar menjadi lebih besar melalui media digital. Delapan kelompok penguasa media di Indonesia kian tahun kian mengisi daftar orang paling kaya.

Kulaih Tamu Dosen Australian National University, Media Digital Penting dengan Akses Internet Kuat
foto: istimewa
Kulaih Tamu Dosen Australian National University di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (JSI UM), Senin (4/3/2019). 

Media besar menjadi lebih besar melalui media digital. Delapan kelompok penguasa media di Indonesia kian tahun kian mengisi daftar orang paling kaya di Indonesia, terutama di Asia Tenggara.

Itu disampaikan Ross Tapsell, pengajar di Australian National University saat menjadi pemateri dalam kuliah tamu Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (JSI UM), Senin (4/3/2019).

Berbicara dalam tema Masa Depan Pemberitaan di Indonesia, kuliah tamu itu diikuti hampir 200 mahasiswa S1, mahasiswa pascasarjana, dan para dosen.

Pernyataan Tapsell itu muncul dari pertanyaan, apa isi pesan jika medianya digital? Menurut Tapsell, terdapat counter oligarchy. Media digital menjadi lebih penting dengan dukungan akses internet yang kian kuat.

Jika masyarakat menemukan ketidakadilan, mereka kini tidak lagi melapor ke petugas. Peran pihak berwajib hampir-hampir digantikan oleh komplain melalui media sosial, entah lewat status Facebook, Twitter, ataupun Instagram.

“Terjadi saling serang. Itu mudah ditemukan antarkomentar yang membahas pro dan kontra berkait dengan permasalahan yang tengah berkembang di masyarakat. Kali ini, yang tengah hangat-hangatnya adalah isu pilpres, terutama di pekan-pekan setelah debat calon presiden dan wakilnya,” kata Tapsell di Aula Perpustakaan UM.

Menariknya, segmen utama dari media digital berasal dari golongan masyarakat menengah. Itu dapat dilihat dari kejadian Bom Sarinah Jakarta pada 14 Januari 2016. Tindakan Jamal (66), penjual sate yang tetap berjualan dipandang menggunakan kacamata golongan menengah sebagai pria super yang tak kenal takut. Setelah dikenali lebih dekat, ternyata Jamal mengaku takut, tetapi memilih tidak lari sebab dia lebih takut kemungkinan kedatangan pencuri yang merampas hasil keringatnya.

Belajar dari kejadian itu, dalam beberapa kasus, media digital hanya mewadahi aspirasi kelas menengah dengan penyajian sudut pandang mereka. Oleh karenanya, terkadang tidak dapat mewakili sudut pandang orang miskin. Tentu saja, pada akhirnya tak dapat mengubah nasib kaum miskin yang tak ‘melek’ teknologi.

Media baru melahirkan politik baru. Demikian yang disampaikan moderator Moch Syahri, selaku ahli media dan jurnalistik di JSI UM.
Setelah acara ditutup, sebagian peserta membeli buku karya Tapsell berjudul Kuasa Media di Indonesia untuk dibubuhi tanda tangan oleh penulisnya langsung. Hidup media digital di Indonesia!

Cicik Tri Jayanti
Pengajar Linguistik di Jurusan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang
cicik.jayanti.fs@um.ac.id

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved