Citizen Reporter

Jadi Petani, Mengapa Tidak?

Banyak orang yang bilang, zaman sekarang bekerja di sektor pertanian itu kuno. Padahal....

Jadi Petani, Mengapa Tidak?
ist/citizen reporter
Konferensi pertanian bertajuk 42nd IFAD’s annual Governing Council di Roma Italia pada 14-15 Februari di kantor pusat FAO di Roma, Italia. 

SURYA.co.id | Banyak orang yang bilang, zaman sekarang bekerja di sektor pertanian itu kuno. Apalagi para milenial yang hidup di era teknologi digital. Sebagian besar anak muda berbondong-bondong ingin menjadi PNS atau bekerja kantoran di perusahaan bonafit dengan baju rapi, salary jelas, masa depan terjamin.

Yang jelas, hampir tidak ada satu pun yang berminat menjadi petani. Itu berbeda dengan yang digaungkan PBB. PBB dan dunia internasional mengganggap sektor pertanian sangat krusial.

International Fund for Agricultural Development (IFAD) telah menggelar konferensi internasional yaitu 42nd IFAD’s annual Governing Council di Roma Italia pada 14-15 Februari di kantor pusat FAO di Roma, Italia. Pertanian dan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan adalah topik yang menjadi pembahasan utama dalam forum itu.

Tahun ini, IFAD bekerja sama dengan Thomson Reuters Foundation menyeleksi hampir 700 pemuda dari berbagai negara untuk mempelajari isu pertanian lebih dalam. Hasilnya, mereka mengundang secara khusus16 pemuda yang lolos seleksi dilihat dari background dan esai. Menjadi salah satu wakil Indonesia tentu membanggakan.

Selain itu, 15 peserta lain yang terpilih dari Tiongkok, Chile, El Salvador, Vietnam, India, Brazil, Kazakhstan, Yordania, Georgia, Zimbabwe, Kamerun, Kenya, South Africa, dan Nigeria.

Kegiatan itu memberikan pengalaman untuk menghadiri dan meliput konferensi internasional. Tujuannya, agar isu ini lebih didengar oleh masyarakat global. Selain mendapatkan materi tentang agrikultur dan pengembangan pedesaan, para peserta juga bertukar pikiran melalui diskusi kelompok dan tanya jawab. Para peserta dari berbagai negara membahas apa saja masalah pertanian yang ada di masing-masing negara.

IFAD adalah sebuah badan PBB yang didirikan pada 1977 dengan tujuan utama untuk menyediakan pendanaan dan membuat program-program yang khusus dirancang untuk pengembangan ekonomi wilayah pedesaan dan daerah miskin di berbagai belahan dunia. Caranya dengan mengembangkan produktivitas agrikultur di wilayah itu.

IFAD memiliki visi, kemiskinan dan kelaparan ekstrem tidak ada lagi di dunia dan setiap keluarga pedesaan hidup bermartabat, mencapai ketahanan pangan melalui pertanian. Itu terutama mengenai pemberdayaan petani kecil (small holder farmers) dalam kaitannya dengan perbaikan ekonomi dan cadangan pangan masyarakat.

Indonesia adalah negara agraris dengan penduduknya yang banyak mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ada sekitar 9,68 juta penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian. IFAD telah meluncurkan pendanaan jutaan dolar untuk kelompok tani dan pengusaha pertanian di daerah terpencil di seluruh dunia yang dinamakan Agri Business Capital (ABC) Fund.

Pendanaan itu didukung Uni Eropa, Africa Carribean Pacific Group of States (ACP), Alliance for a Green Revolution in Africa (AGRA) dan diatur oleh Bamboo Capital Fund.

Jadi saat ini, semakin mudah bagi anak muda bila ingin serius terjun ke dunia pertanian. Selain memberikan pinjaman berbunga rendah, IFAD juga memberikan mentoring pada para petani kecil untuk mengembangkan usahanya dan memberikan akses langsung pada pasar.

Sidang IFAD di Roma harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memaanfaatkan potensi pertanian dalam mencapai ketahanan pangan. Sudah saatnya orang Indonesia dapat mengatakan, kemandirian pangan bukan hanya impian.

Penulis : Ari Ganesa, Alumnus Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

Tags
PBB
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved