Membentuk Kesadaran Sejarah Tak Cuma Lewat Menghafal Nama Pahlawan

hal terpenting dalam pembelajaran sejarah adalah terbentuknya kesadaran sejarah. Itu bukan sekadar mengingat pahlawan dan memahami peristiwa sejarah.

Membentuk Kesadaran Sejarah Tak Cuma Lewat Menghafal Nama Pahlawan
ist/citizen reporter
Simposium Nasional Pengajaran Sejarah bertajuk Revolusi Pembelajaran Sejarah di Indonesia di LPMP Yogyakarta (22-24/2/2019). 

SURYA.co.id | Kesadaran sejarah mendapat perhatian khusus dalam Simposium Nasional Pengajaran Sejarah bertajuk Revolusi Pembelajaran Sejarah di Indonesia di LPMP Yogyakarta pada 22 Februari hingga 24 Februari 2019 lalu. 

Kegiatan itu berlangsung karena ada kerjasama antara Direktorat Sejarah dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). 

Hadir sebagai pembicara adalah Hermanu, Guru Besar Universitas Sebelas Maret; Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada; dan Dyah Kumalasari, dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta.

Simposium diawali dengan pemaparan materi oleh Direktur Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.

Di hadapan sekitar 275 guru sejarah perwakilan dari Sabang sampai Merauke, Hilmar menegaskan, hal terpenting dalam pembelajaran sejarah adalah terbentuknya kesadaran sejarah. Itu bukan sekadar mengingat pahlawan dan memahami peristiwa sejarah.

“Kesadaran sejarah harus dijadikan tujuan dalam pembelajaran sejarah,” tegasnya

Dalam sejarah dikenal ada tiga dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Kesadaran sejarah menganyam tiga dimensi itu.

“Masa lalu dipelajari lalu diambil hikmahnya agar bisa menentukan sikap yang benar di masa kini. Apa yang dilakukan saat ini sangat menentukan masa yang akan datang,” sambungnya.

Revolusi pembelajaran sejarah menjadi sangat mendesak dilakukan jika guru Sejarah tidak ingin ditinggalkan murid-muridnya. Guru Sejarah harus meng-upgrade diri agar bisa mengimbangi kecakapan siswa dalam hal kecakapan informasi. Dengan begitu, pembelajaran sejarah tidak kehilangan esensinya sebagai sarana membentuk karakter siswa.

Sumardiansyah, Presiden AGSI mengungkapkan, guru Sejarah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sejarah. Siswa diajak meresapi masa lalu, lantas direfleksikan untuk menumbuhkan karakter nasionalisme bagi siswa.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved