Rumah Politik Jatim

Pemilu Tinggal 39 Hari Lagi, Khofifah Ingatkan Kemungkinan Munculnya Konflik Sosial

Khofifah Indar Parawansa mengingatkan tentang pentingnya menjaga kemanan dan kondisivitas jelang pelaksanaan Pemilu yang tingga 39 hari ke depan

Pemilu Tinggal 39 Hari Lagi, Khofifah Ingatkan Kemungkinan Munculnya Konflik Sosial
SURYA.co.id/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Luky Hermawan, dan para kiai NU Jawa Timur dalam acara Silaturahmi Ulama NU Jawa Timur di Hotel Bumi, Sabtu (9/3/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan tentang pentingnya menjaga kemanan dan kondisivitas jelang pelaksanaan Pemilu yang tingga 39 hari ke depan.

Menurutnya, ada hal-hal yang harus dilakukan antisipasinyang komprehensif di momen penting yang dihelat lima tahun sekali tersebut. Terutama adanya kemungkinan terjadinya konflik sosial.

"Ada prediksi dari hasil survei UIN Syarif Hidayatullah dan LIPI, banyak yang melihat kemungkinan konflik sosial itu akan muncul di Pemilu 2019," kata Khofifah usai hadir dalam acara Silaturahim Ulama NU Jawa Timur, di Hotel Bumi, Sabtu (9/3/2019).

Dalam acara itu, hadir sejumlah tokoh mulai Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luky Hermawan, Panglima Kodam V Brawijaya, Mayjend TNI Wisnoe PB, serta para syuriah dan tanfidiyah NU se Jawa Timur. Serta turut hadir pula mantan Gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan Saifullah Yusuf.

"Saya tadi sampaikan presentasi yang saya kutib dari hasil survei UIN Syarif Hidayatullah, dan surveinya LIPI. Ini bisa menjdi preferensi kita bahwa UIN Syarif Hidayatullah di 34 provinsi di Indonesia itu kelompol millenial ternyata ada kecenderungan intoleransi, yaitu generasi Y dan Z," terang Khofifah.

Hal yang sama juga dilihat dari hasil survei LIPI. Bahkan responden dari survei tersebut 36 persennya adalah dari kalangan doktor, 32 persennya adalah kalangan master, dan hanya 6 persen yang lulusan dibawah sarjana.

"Ada hal-hal yang harus dilakukan antisipasi yang komprehensif. Seperti politik identitas, SARA, itu cukup dominan dan kemungkinan bisa memicu disharmoni," tambah Khofifah.

Menurutnya, lantaran momen itu berkumpul para key person di Jawa Timur maka ia ingin semua mencermati akan kondisi yang saat ini harus dihadapi. Dengan harapan semua bisa menciptakan kewaspadaan bersama dalam memgahadapi momen politik yang tinggal menghitung hari.

"Selama ini Jawa Timur bisa memberikan layanan terbaik dari segi keamanan dan ketertiban terutama untuk menjaga agar Pemilu bisa berlangsung aman dan damai, maka ini waktu uang tepat untuk saling membangun sinergitas dari seluruh keyperson di Jawa Timur," tandasnya.

Sementara itu Kepala Staff Kepresidenan Moeldoko mengatakan terkait potensi konflik sosial, menurutnya itu bisa saja terjadi. Akan tetapi sebagai negara yang sudah berulang kali menyelenggarakan pemilu, menurutnya warga negara Indonesia sudah dewasa.

"Itu sangat mungkin terjadi, tapi rakyat kita sudah sangat dewasa. Saya rasa nggak akan terpengaruh soal itu. Tapi kalau nanti ada upaya untuk menciptakan konflik agar situasi jadi tidak aman jelang pemilu sehingga timbul ketakutan, supaya nggak memilih ya bisa saja, namun itu akan kita antisipasi," katanya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved