Citizen Reporter

Siswa SD Kyai Ibrahim Surabaya Buat Batik Ikat Celup, Mereka Bersorak saat Kasek Apresiasi begini

Pembelajaran abad ke-21 membuat siswa SD Kyai Ibrahim Surabaya menerapkan 4C (Creative, Critic, Communicative, and Collaborative).

Siswa SD Kyai Ibrahim Surabaya Buat Batik Ikat Celup, Mereka Bersorak saat Kasek Apresiasi begini
foto: istimewa
Para siswa SD Kyai Ibrahim Surabaya memamerkan karya ujian praktik batik ikat celup. 

Pembelajaran abad ke-21 membuat siswa SD Kyai Ibrahim Surabaya menerapkan 4C (Creative, Critic, Communicative, and Collaborative) dalam pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP).

Pembuatan batik ikat celup yang dilakukan 112 siswa kelas 6 sebagai ujian praktik sekaligus bekal masa depan mereka. Itu melatih skill dan melestarikan budaya bangsa, batik.

Ujian praktik SBdB dilaksanakan Kamis (14/2/2019). Salah satu penilaiannya adalah pembuatan batik ikat celup. Pembuatan batik ini dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 5-6 anak. Ujian yang berlangsung pukul 07.00 hingga pukul 12.00 itu begitu mengesankan.

Setiap kelompok menyiapkan kain belacu atau katun putih yang mudah menyerap warna berukuran 1,5 x 1,5 meter, karet gelang, wantex (pewarna kain), uang logam, kelereng, dan pensil. Kompor dan panci telah disediakan sekolah.

Sebelum mulai, Subandi, guru Kesenian menyampaikan pentingnya ikatan karet. Semakin kuat ikatannya, hasilnya akan semakin bagus. Warnanya tidak akan tercampur.

“Membuat batik ikat celup melalui tiga tahapan, yaitu tahap membuat model dengan mengikat karet ke kain, tahap pencelupan, dan tahap pengeringan,” lanjutnya.

Batik ikat celup merupakan jenis batik yang mudah pembuatannya dibanding lainnya. Bahannya mudah didapat dan hasilnya juga bagus. Siswa dapat mengkreasi ikatan untuk terlihat apik. Jamak siswa antusias membuat pola seunik mungkin dengan mengikat karet pada kain. Sebagai pembentuk dan penguat ada yang menggunakan pensil, uang logam, atau kelereng di dalamnya.

Kain siap dimasukkan dalam panci yang berisi rebusan air dan pewarna. Salah satu siswa memasukkannya sambil membolak-balik dan mendiamkan beberapa saat di panci. Semakin banyak wantex yang dimasukkan, semakin kuat warna yang dihasilkan. Siswa lain membersihkan sisa karet dan peralatan lainnya. Kebersihan menjadi pembiasaan bagi siswa.

“Ternyata mudah membuat batik ikat celup. Tidak sesulit yang saya bayangkan,” ujar Nadiva, salah satu siswa, sambil mengangkat kainnya dari panci setelah dilakukan pewarnaan.

Kolaborasi dan kerja sama menjadi kunci keberhasilan kelompok. Begitu juga saat melepas karet satu persatu dari kain hingga penjemuran.

Ada 22 kain batik ikat celup dengan bentuk yang berbeda-beda, unik, dan menarik. Anak-anak bersorak ketika Ranu, kepala sekolah memberikan acungan jempol terhadap prakarya mereka.

Nur Sofiah
Guru di SD Kyai Ibrahim Surabaya
nursofi82@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved