Citizen Surya

Museum Gubug Wayang di Mojokerto, Idenya dari Suyadi Pemeran Pak Raden dalam serial Laptop Si Unyil

Pengunjung bisa melihat aneka replika tokoh Unyil, kerajinan wayang, serta sejarah tentang Indonesia. Koleksi wayangnya mencapai 7.599.

Museum Gubug Wayang di Mojokerto, Idenya dari Suyadi Pemeran Pak Raden dalam serial Laptop Si Unyil
foto: istimewa
Museum Gubug Wayang di Jalan Kartini 23 Kota Mojokerto. 

Mengisi hari libur sambil belajar itu menarik asal tahu lokasi yang menyenangkan. Datang saja ke Museum Gubug Wayang di Jalan Kartini 23 Kota Mojokerto. Tempatnya tidak jauh dari Alun-alun Kota Mojokerto.

Museum Gubug Wayang didirikan oleh Yensen Project Indonesia. Menurut pemandu yang mendampingi dan menjelaskan, ide museum dari Suyadi yang dikenal dengan nama Pak Raden dalam serial Laptop Si Unyil. Karena tidak memiliki lahan, ide itu belum bisa diwujudkan. Baru setelah bertemu sosok yang sering disapa Pak Yensen, ide itu terwujud.

Lahan milik Yensen di Mojokerto pun dibangun menjadi Museum Gubug Wayang. Dulu tempat itu adalah kantor Pemerintah Belanda yang terbengkalai sehingga dimanfaatkan sebagai museum.

Dua orang itu akhirnya bergabung untuk pembuatan Museum Gubug Wayang. Akhirnya pada 15 Agustus 2015, Museum Gubug Wayang diresmikan Pak Raden.

Ia mengisyaratkan untuk membawa koleksi replika Si Unyil yang ada di Jakarta dan akan dipindahkan ke Museum Gubug Wayang. Namun, pihak museum tidak mengambil semua dengan gratis karena sebagian replika Si Unyil ditebus dengan uang supaya bisa membantu biaya pengobatan yang pada waktu itu dijalani Pak Raden.

Museum itu memang menarik. Di sana pengunjung bisa melihat aneka replika tokoh Unyil, kerajinan wayang, serta sejarah tentang Indonesia. Koleksi wayangnya mencapai 7.599.

Pengunjung juga bisa melihat akulturasi dari budaya Tiongkok Selatan dan Jawa yang digambarkan lewat wayang potehi. Replikanya dibuat sama dengan bentuk aslinya.

Ada berbagai macam alat tradisional Indonesia serta ada macam-macam mainan tradisional Indonesia. Perajinnya berasal dari berbagai kota di Indonesia, seperti dari Jawa Timur, Yogyakarta, serta Cirebon.

Yang menarik, tokoh-tokoh nasional maupun internasional juga dibuat wayang. Tempatnya pun sangat bagus untuk dijadikan ikon foto kekinian. Jadi, di tempat itu bisa berlibur disertai belajar sejarah.
Sekitar pukul 11.00 ada orang-orang sepuh yang nembang menggunakan bahasa Jawa. Itu membuat suasana semakin nyaman.

Museum menerima kunjungan rombongan. Itu seperti yang dilakukan 27/2/2019 PG/TK Sabilillah Islamic School Sudodinawan, Kota Mojokerto, yang akan berkunjung Rabu (27/2/2019). Sehari sebelumnya, agenda kunjungan diisi Madrasah Tsanawiyagh Nurus Syafi'i Sidoarjo. Demikian juga dengan SMPK Panti Parama Pandaan, Kabupaten Pasuruan, yang akan datang Kamis (21/3/2019).

Museum tutup tiap Senin. Jam buka Selasa-Jumat pukul 09.00-17.00. Sabtu, Minggu, dan hari libur pukul 09.00-17.00 atau 20.00.

Saat masuk ke dalam museum, semua harus melepas alas kaki dan menggunakan sandal yang disediakan pihak museum. Jangan lupa untuk mengikuti arahan pemandu supaya suasana bisa kondusif. Dijamin yang datang ketagihan. Tempatnya yang bersih, suasana yang indah, akan membuat pengunjung nyaman.

Museum itu mengingatkan setiap orang untuk tetap menjaga serta melestarikan kebudayaan Indonesia. Generasi peneruslah yang akan menjaga kebesaran budaya itu. Maka, tetaplah bangga pada budaya dan negeri ini.

Tita Nia Royanti
Mahasiswa Manajemen
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
niatita81@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved