Citizen Reporter

Jombang Institute dan Boenga Ketjil Ajari Para Guru Menulis Fiksi

Jombang Institute & Boenga Ketjil menggelar workshop menulis fiksi yang pesertanya mayoritas guru bahasa Indonesia dari SMA dan SMK Negeri di Jombang

Jombang Institute dan Boenga Ketjil Ajari Para Guru Menulis Fiksi
ist/citizen reporter
Workshop Menulis Fiksi yang diselenggarakan di Gedung Edotel SMK N 1 Jombang oleh Jombang Institute dan Boenga Ketjil 

SURYA.co.id | Workshop Menulis Fiksi yang diselenggarakan di Gedung Edotel SMK N 1 Jombang, Sabtu-Minggu (23-24/2/2019) sangat berkesan dan bermakna. Kegiatan itu adalah kegiatan pertama Jombang Institute dan Boenga Ketjil. Kedua lembaga ini sama-sama punya konsentrasi di bidang sejarah, sosial, dan kebudayaan.

Kegiatan itu juga menjadi ruang terbuka untuk saling berbagi ilmu. Salah satunya, mereka menggelar workshop untuk melatih menulis cerita pendek. Pesertanya mayoritas guru Bahasa Indonesia dari SMA/SMK Negeri se-Kabupaten Jombang.

Jombang Institute dan Boenga Ketjil Jombang juga menggandeng Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Jombang dan Suara Pendidikan Jombang untuk menyukseskan acara itu.

Dalam sambutannya, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, yang diwakili Muslich selaku Ketua Forum MGMP Kabupaten Jombang mengatakan, acara itu positif karena dapat meningkatkan kompetensi guru dalam hal menulis. Itu bisa menggerakkan literasi di Kabupaten Jombang.

“Kita tidak hanya dituntut untuk mampu menyampaikan, tetapi juga membuktikan kepada siswa sehingga jika ada wujudnya berupa karya. Itu akan membuat siswa lebih termotivasi dalam menulis. Pelatihan-pelatihan seperti ini memang diarahkan pada luaran yang dihasilkan sewaktu pelatihan,” lanjutnya.

Hal itu dikuatkan Dadang Ari Murtono, cerpenis produktif asal Mojokerto, selaku narasumber. Menurutnya, menulis fiksi untuk menunjukkan bukan menceritakan. Materi yang disampaikan Dadang runtut, mulai dari bagaimana cara menggali ide, penentuan tokoh dan karakter, mendeskripsikan latar, membuat alur dan konflik, membuat dialog, membuat sudut penceritaan atau point of view, dan membuat adegan.

“Sungguh keliru jika ide dianggap sebagai sesuatu yang turun dari langit. Bertumpuk-tumpuk ide mengelilingi kita setiap hari. Ban bocor bisa menjadi ide dan bisa dikembangkan menjadi cerita dengan hubungan kausalitas,” tuturnya meyakinkan.

Yang menarik dari paparan semua materi yang disampaikan Dadang adalah adanya nilai-nilai yang secara implisit mengiringi materi. Ia mengingatkan, cara pandang penulis terhadap sesuatu belum tentu benar, sehingga dituntut untuk terus mencari dan menggali serta belajar.

Tokoh dan karakter memberi pesan. Itu sebabnya, untuk menentukan tokoh, tidak boleh sembarangan.

“Tidak mungkin latar cerita kita di lingkungan keraton, tokoh yang dibuat bernama Chyntia, Adolfina, Febby, Novaline, yang bernada kebarat-baratan. Itu memengaruhi kelogisan cerita,” kata Dadang yang menunjukkan agar tidak tergesa-gesa menentukan lakon.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved