Berita Banyuwangi

Mahasiswa S2 Arsitektur dari Universitas Hongkong Studi di Banyuwangi

Mahasiswa Program Pasca Sarjana Jurusan Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur, Universitas Hongkong, mengunjungi Banyuwangi.

Mahasiswa S2 Arsitektur dari Universitas Hongkong Studi di Banyuwangi
surya.co.id/istimewa
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Jurusan Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur, Universitas Hongkong, mengunjungi Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Sebanyak 36 mahasiswa Program Pasca Sarjana Jurusan Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur, Universitas Hongkong, mengunjungi Banyuwangi.

Mereka mempelajari keterkaitan antara pengembangan lansekap kawasan dan pelibatan masyarakat lokal.

Matthew Pryor, Kepala Divisi Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur, Universitas Hongkong, mengatakan, study tour tersebut bagian dari agenda Semester Long Research and Design Study fakultasnya.

"Kami ingin melihat hubungan lebih jauh antara lansekap alam dan masyarakat lokal. Bagaimana pembangunan yang dilakukan Banyuwangi, apakah seimbang antara peningkatan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan,” kata Pryor, Selasa (5/03/2019).

Pryor lalu mengungkapkan mengapa mereka tertarik datang dan melakukan studi di Banyuwangi.
Awalnya, kata dia, pihaknya tengah concern memperhatikan perkembangan daerah yang ada di Jawa Timur.

Dari sekian daerah, ketertarikan mereka akhirnya mengerucut pada Banyuwangi yang dinilainya mengalami perkembangan pesat.

“Selama tiga minggu kami menggali informasi tentang Banyuwangi, baik melalui riset di internet maupun jurnal akademik. Hasilnya membuat kami langsung tertarik datang ke mari. Itu sebabnya kami datang untuk melihat langsung dan belajar banyak hal tentang Banyuwangi. Mulai dari kebijakan dan strategi pengembangan daerah dan pariwisatanya,” terang Pryor.

Rombongan mahasiswa Hongking ini akan berada di Banyuwangi selama satu pekan, dari 1-7 Maret.

Mereka akan berkeliling mengunjungi sejumlah destinasi wisata alam, seperti Gunung Ijen, Kawasan Ekosistem Esensial Teluk Pangpang, Hutan Mangrove di Muncar, Taman Nasional Alas Purwo, dan Wisata Coklat Doesoen Kakao di Glenmore. Selain juga Pantai Plengkung (G-Land), Pantai Sukamade, dan Pantai Pulau Merah, Taman Nasional Meru Betiri.

Untuk menunjang penelitian, mereka datang langsung mengunjungi sejumlah komunitas masyarakat untuk melihat sejauh mana keterkaitan antara pengembangan wisata alam dan peningkatan kesejahteraan warga lokal.

“Kami sudah berkeliling selama empat hari di sini, Sejauh ini hasilnya cukup memuaskan. Di sini kami menemukan bahwa rakyat selalu dilibatkan dalam pembangunan daerah. Pengembangan suatu kawasan destinasi melibatkan warga setempat, sehingga rakyat dan pemerintahnya satu misi, saling mendukung untuk kemajuan bersama. Ini sangat menguntungkan untuk sebuah pembangunan,” jelasnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved