Citizen Reporter

Diskusi Pengelola Jurnal di Lingkungan Untag Surabaya, Jurnal harus Bisa Diakses secara Daring

Fakultas Hukum Untag memiliki empat jurnal Mimbar Keadilan, Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune, Jurnal Hukum Magnum Opus, dan DIH Jurnal Ilmu Hukum.

Diskusi Pengelola Jurnal di Lingkungan Untag Surabaya, Jurnal harus Bisa Diakses secara Daring
foto: istimewa
Foto ilustrasi 

SUASANA  Gedung Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya) ramai dipenuhi dosen lintas fakultas, Sabtu (12/2/2019). Mereka sebagai pengelola jurnal, berkumpul menjadi satu dalam Diskusi Persiapan Akreditasi Jurnal Ilmiah Bagi Pengelola Jurnal di Lingkungan Untag Surabaya. Diskusi itu terlihat lebih santai namun tetap terlontar berbagai pertanyaan yang sifatnya teknis ataupun tidak.

Narasumber Eko Pramudya Laksana dari Universitas Negeri Malang menyampaikan, mengelola jurnal harus dilakukan secara sabar, konsisten, dan kembali ke awal yaitu harus segera dilakukan. Tidak boleh menunda-nunda.

Artinya ketika jurnal itu belum terakreditasi maka banyak permasalahan di dalamnya seperti kekurangan naskah, penarikan naskah oleh calon penulis, hingga terbit tanpa melalui proses edit yang membutuhkan banyak waktu. Kebetulan saat ini, para peneliti di Indonesia khususnya dosen, wajib masuk jurnal internasional bereputasi sebagai salah satu unjuk kepakarannya.

Sementara itu, keberadaan jurnal internasional bereputasi cukup sedikit dalam lingkup ilmu tertentu dan menembusnya pun membutuhkan waktu yang lama serta berbiaya besar.

Fakultas Hukum Untag memiliki empat jurnal yaitu Mimbar Keadilan, Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune, Jurnal Hukum Magnum Opus, dan DIH Jurnal Ilmu Hukum. Kedua jurnal di antaranya sedang persiapan menuju akreditasi nasional.

Dalam diskusi juga disampaikan, dalam mengelola jurnal saat ini harus mudah ditelusuri secara daring. Jurnal versi cetak tetap dibutuhkan sebagai dokumentasi fakultas.

Muncul juga pertanyaan ketika naskah yang dikirimkan dari rekan kerja yang telah memiliki jam terbang tinggi, apakah wajib mengikuti alur penerbitan via open journal system? Eko menjawab secara tegas yaitu wajib dan harus profesional karena kalau pengelola jurnal meloloskan tanpa alur maka berimbas terhadap jurnal yang sudah terakreditasi.

Erny Herlin Setyorini, salah satu peserta menyampaikan pemikirannya tentang jurnal mahasiswa. Itu karena hasil penelitian mahasiswa harus disebarluaskan sehingga membawa perubahan dalam masyarakat.

Keberadaan sebuah jurnal saat ini lebih spesifik seperti daftar pustaka yang diutamakan dari jurnal-jurnal penelitian bereputasi atau akreditasi kemudian apakah naskah-naskah itu membawa kebaruan atau tidak hingga hal apa yang sebetulnya ditulis.

Sebagai penutup diskusi, Eko mengatakan, proses administrasi dalam menerbitkan naskah harus diperhatikan dalam mengajukan akreditasi. Diskusi ini memberikan pemahaman lebih lanjut akan akreditasi karena sebelumnya jurnal milik Fakultas Psikologi Untag telah terakreditasi dengan nomor 4.

Tomy Michael
Tenaga Edukatif
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
tomy@untag-sby.ac.id

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved