Citizen Reporter

Bedah Cerpen di Universitas Negeri Malang: "Waktu untuk Tidak Menikah" Bercerita Masalah Perempuan

Cerita soal perempuan yang ditulis oleh perempuan tentu memiliki cita rasa yang lebih mengena.

Bedah Cerpen di Universitas Negeri Malang:
foto: istimewa
Suasana Bedah Cerpen "Waktu untuk Tidak Menikah" di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. 

CERITA soal perempuan yang ditulis oleh perempuan tentu memiliki cita rasa yang lebih mengena. Amanatia Junda, seorang cerpenis dari Yogyakarta melakukannya dengan baik dalam buku kumpulan cerpen Waktu untuk Tidak Menikah. Buku itu dibedah di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Jumat (8/2/2019).

Acara malam itu menghadirkan dua pembedah yakni Maryam Jameela yang merupakan aktivis feminis serta M Rosyid sebagai perwakilan Komunitas Pelangi Sastra. Persoalan feminisme banyak diulas dalam acara yang diselenggarakan Pelangi Sastra.

Menurut Maryam Jameela, Waktu untuk Tidak Menikah merupakan karya yang mampu menyuarakan permasalahan perempuan dengan baik. Pemilihan cara penuturan cerita-cerita pendek dalam buku mewakili bahasa perempuan.

Selama ini, perspektif patriarkis mendominasi diskusi tentang perempuan termasuk dalam karya sastra sehingga bahasa perempuan kurang dipahami. Padahal sebaik apapun usaha lelaki untuk menggambarkan perempuan, akan berbeda dengan penggambaran yang dibuat secara langsung oleh si pemilik pengalaman.

Sejatinya apa-apa yang lahir dari suara hati perempuanlah yang benar-benar bisa menjelaskan bagaimana perempuan itu.

Pembedah selanjutnya, M Rosyid menyoroti isu-isu progresif yang muncul dalam buku. Permasalahan buruh dan kekerasan seksual menjadi dua hal yang ramai diperbincangkan beberapa waktu belakangan. Penulis mengemas isu-isu tersebut melalui kisah-kisah yang menarik untuk dibaca.

Rosyid menuturkan, pemilihan judul buku ternyata berhasil menciptakan semacam jebakan bagi pembaca. Kata “menikah” mungkin akan menarik perhatian pembaca konservatif, sebaliknya konflik yang dihadirkan dalam buku justru bersifat progresif.

Usai kedua pembedah menyampaikan pemaparan mereka, giliran penulis berbagi seputar karyanya.

Perjalanan menulis cerita pendek didasari keinginan untuk membuat arsip dalam bentuk buku. Terpilihlah 14 cerita pendek yang mengisi buku dengan sampul berwarna dasar hijau toska itu.

Melalui buku itu, penulis ingin memberi tahu pembaca mengenai hubungan perempuan dengan dunia yang beraneka macam. Ada perempuan buruh, perempuan pejabat, perempuan dengan pacar yang “unik”, perempuan korban kekerasan seksual, perempuan dengan masa lalunya, perempuan dengan lingkungan, dan sebagainya.

Berangkat dari hal sederhana itu, penulis ingin menarasikan realitas sosial perempuan lewat cerita fiksi.

Secara kebetulan, tulisan penulis selama 6 tahun bersinggungan dengan tema-tema yang banyak dibahas hari-hari ini.

Tidak heran jika kata kunci “menikah” mampu mengantarkan buku ini masuk ke jajaran buku best seller dari penerbit.

Waktu untuk Tidak Menikah layak diapresiasi, para pembedah pun berharap agar karya-karya dengan rasa khas perempuan terus diproduksi.

Siti Faizatun Nisa’
Mahasiswa
Twitter: @faizatunisa_

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved