Citizen Reporter

KKN Universita Tronujoyo di Bangkalan, Tanamkan Budaya Literasi dengan Program Perpus Alit

Selain membaca, mereka bisa dengan bebas menulis apapun seperti puisi, cerita bergambar, dan medengarkan dongeng.

KKN Universita Tronujoyo di Bangkalan, Tanamkan Budaya Literasi dengan Program Perpus Alit
foto: istimewa
Ilustrasi program Perpus Alit yang menanamkan minta baca anak-anak. 

Cara terbaik untuk meningkatkan kualitas dan karakter, kompetensi dan kesehjateraan hidup seseorang, adalah dengan menanamkan budaya literasi (membaca-berpikir-menulis-berkreasi). Budaya literasi yang perlu dikembangkan itu merupakan kunci memajukan negeri karena membaca merupakan alat untuk mempertajam pikiran dan memperluas wawasan.

Salah satu upaya nyata dari mahasiswa melalui program kerja KKN demi meningkatkan minat literasi pada generasi penerus bangsa. Setiap hari pukul 09.00 di halaman SDN Karang Panasan Dusun Karang Tengah Desa Karang Panasan, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan melalui program Perpus Alit, Kelompok KKN 67 Universitas Trunojoyo Madura membuka lapak buku berisi bahan bacaan anak usia 3-12 tahun.

Dibuka setiap jam istirahat sekolah dengan berbagai bahan bacaan yang telah mereka sediakan ternyata mampu menarik perhatian para siswa SDN Karang Panasan.

Selain membaca, mereka bisa dengan bebas menulis apapun seperti puisi, cerita bergambar, dan medengarkan dongeng. Salah satu trik yang dilakukan untuk menarik perhatian siswa adalah mendongeng.

Diawali dengan menceritakan kisah-kisah inspiratif yang mudah diterima anak seusianya, mereka diajak untuk berfikir aktif dan kritis. Seperti Sabtu (19/1/2019) pagi, salah satu anggota KKN 67 menceritakan dongeng tentang betapa liciknya Pak Harimau yang dalam ceritanya memiliki sifat angkuh, licik, dan suka ingkar janji.

Para siswa tampak antusias mendengarkan dongeng. Mungkin dalam benak mereka hanya tergambarkan sosok binatang harimau saja seperti dalam cerita namun kelak mereka akan merasakan sendiri dongeng semacam itu banyak merepresentasikan kehidupan yang sebenarnya.

Melalui dongeng anak diajarkan untuk menilai dan mempertimbangkan segala bentuk perbuatan yang nantinya akan dibawa sebagai bekal dalam mereka bermasyarakat. Selain itu, penanaman nilai-nilai moral dalam dongeng sejak dini mampu memupuk tunas-tunas bekualitas dengan akhlak dan ilmu yang baik.

Dengan kegiatan semacam itu diharapkan para siswa akan tertarik untuk membaca. Dengan membaca, mereka sekaligus bisa membaca kehidupan dan belajar mencuri ilmu dengan baik.

Di akhir cerita ditambahkan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan dijawab dengan bersemangat. Mereka bergantian mengangkat tangan, bersahut-sahutan menjawab.

“Kami berharap, mereka memiliki ketertarikan yang lebih dalam dunia membaca. Dengan cara seperti itu, semoga mereka bisa mencintai buku,” ujar Iman selaku koordinator desa.

Fitrotin, selaku penanggung jawab program kerja mengungkapkan, minat baca dan menulis di kalangan anak seusia mereka masih minim. Seharusnya, pada usia inilah mereka seharusnya dipupuk sebanyak-banyaknya dengan budaya literasi agar kelak mereka bisa menuai apa yang mereka tanam.

Respons yang sangat baik juga diberikan para guru di SDN Karang Panasan, salah satunya Hermin.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan positif dan sangat perlu diintensifkan," ujar Hermin.

Yuni Puspita Indah
Anggota KKN 67
Universitas Trunojoyo Madura
yunipuspita4697@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved