Hilangnya Warga Tionghoa Para Pemilik Pabrik di Panggul Tempo Dulu

Kecamatan Panggul di Kabupaten Trenggalek dulu adalah kawedanan yang sangat maju dan majemuk. Di wilayah ini bermukim berbagai etnis.

Hilangnya Warga Tionghoa Para Pemilik Pabrik di Panggul Tempo Dulu
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Kantor Kecamatan Panggul bekas kantor kawedanan Panggul di era penjajah Belanda masih terpelihara hingga saat ini. Selain kantor ini, ada sejumlah peninggalan Belanda yang masih terpelihara. 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Kecamatan Panggul di Kabupaten Trenggalek dulunya sebuah kawedanan yang sangat maju dan majemuk. Di wilayah ini bermukim bangsa pendatang, seperti Arab, India dan Tionghoa.

Pengamat sejarah Panggul, yang juga warga setempat, Hari Agung Lukito (48) menuturkan, orang-orang India dan Arab tidak menetap. Keperluan mereka sepenuhnya berdagang, atau menyebarkan agama Islam. Orang India mencari batu kumala hijau, untuk ditukar dengan kain.

“Orang-orang sini dulu menyebutnya orang Gujarat. Mereka minta warga cari batu kumala hijau, sama mereka ditukar dengan kain,” terang Hari.

Namun berbeda dengan orang-orang dari Tiongkok. Mereka menetap di Panggul dan membuat usaha di sini. Sejumlah pabrik pun bermunculan, mulai dari pabrik kecap, minuman keras, kertas, sabun dan minyak kelapa.

Orang-orang Tionghoa dikenal pintar memanfaatkan sumber daya yang ada di Panggul. Tidak heran mereka menguasai perekonomian di Panggul. Namun keberadaan mereka menyusut karena huru-hara pemberontakan PKI Madiun tahun 1948.

“Saat itu muncul sentimen anti China di Panggul, karena mereka dianggap bagian dari komunisme. Sebagian pergi meninggalkan Panggul,” lanjut Hari.

Menengok Kantor Camat Panggul Trenggalek, Bekas Pusat Pemerintahan Onderaan Ponco Sudro Era Belanda

Sebar Foto Tanpa Busana Belasan Remaja Perempuan, Pria di Bojonegoro Diringkus Polisi

Perempuan di Sumenep Racuni Suami Sendiri Hingga Tewas. Perselingkuhan Jadi Modusnya

Namun masih banyak yang bertahan di Panggul. Mereka yang bertahan ini semakin berjaya. Mereka benar-benar mengusai ekonomi Panggul dengan mendirikan berbagai pabrik.

Namun saat meletus peristiwa PKI tahun 1965, warga Tionghoa benar-benar habis. Mereka ketakutan karena saat itu terjadi pembersihan orang-orang komunis. Sementara orang-orang Tionghoa ini dianggap bagian dari Partai Komunis Tiongkok.

“Terakhir yang masih tersisa saat itu ada sekitar tujuh keluarga. Mereka kebanyakan balik ke Tiongkok,” sambung Hari.

Bekas pabrik orang-orang Tionghoa ini sempat bertahan hingga sekitar tahun 1975. Namun kini semuanya sudah tidak berbekas, berganti bangunan pribadi. Bekas pabrik sabun misalnya, kini menjadi rumah seorang polisi.

Halaman
12
Penulis: David Yohanes
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved