Citizen Reporter

2 Penulis Buku Gelar Meet & Greet di Gramedia Royal Plaza: Titik Lemah sebuah Buku Kumpulan Perasaan

Zarry Hendrik bercerita tentang perjalanan buku keempatnya itu. Titik Lemah adalah sebuah buku kumpulan perasaan, karena tiap orang punya titik lemah.

2 Penulis Buku Gelar Meet & Greet di Gramedia Royal Plaza: Titik Lemah sebuah Buku Kumpulan Perasaan
foto: istimewa
Suasana Meet and Greet dua buku Titik Lemah dan Hilang di Gramedia Royal Plaza Surabaya, Minggu (3/2/2019). 

Setelah sukses menggelar Meet & Greet di sejumlah kota seperti Bandung, Depok, dan Malang, kali ini giliran Surabaya yang didatangi dua penulis, Zarry Hendrik serta penulis anyar Nawang Nidlo.

Mereka bertemu dengan penggemar dalam Meet and Greet buku terbaru mereka, Titik Lemah dan Hilang di Gramedia Royal Plaza Surabaya lantai 2, Minggu (3/2/2019). Acara dikunjungi sekitar 100 pengunjung.

Zarry Hendrik bercerita tentang perjalanan yang cukup panjang dari buku keempatnya itu. Titik Lemah adalah sebuah buku kumpulan perasaan, karena tiap orang punya titik lemah.

Ada yang titik lemahnya karena di keluarga tidak ada sosok ayah, keluar dan mencari sosok ayah, ada juga yang titik lemahnya mantan.

Ide-ide cerita rupanya datang tanpa dicari. Zarry menuliskan kumpulan titik lemah yang dimiliki orang-orang di sekitarnya, para pengikut media sosial, dan puluhan direct message (DM) yang masuk media sosialnya tanpa ia minta maupun bersumber dari diri sendiri.

Ia mengaku tidak semua DM dibalas, namun cerita-cerita tersebut secara diam-diam ia tulis dalam buku terbitan MediaKita itu. Tak hanya itu, buku itu menurutnya juga menyindir orang-orang yang berlebihan meluapkan isi hati di media sosial.

"Karena luapan emosi yang terlampau blak-blakan di media sosial tak perlu dilakukan, justru akan lebih indah jika dilakukan dengan tersirat," jelasnya.

Sedangkan bagi penulis buku Hilang, Nawang, buku ini spesial karena merupakan buku pertamanya. Bercerita tentang cinta pada kesendirian, lulusan Perpajakan Universitas Jember itu memosisikan diri sebagai orang yang kehilangan selama proses menulis, walau ia mengaku tak sedang kehilangan.

Bukunya tentang mencintai kesendirian. Setiap orang pasti pernah sendiri, mau yang perasaan tidak terbalas atau sudah berhubungan, tetapi tiba-tiba sendirian. Nawang juga mengaku ceritanya ia dapat dari teman-teman.

“Ada yang ditinggal waktu sayang-sayangnya, lalu saya memosisikan diri sebagai yang kehilangan,” kata Nawang.

Lewat buku itu, penulis berusia 21 tahun itu berharap pembaca dapat mengambil hal berguna dari tulisannya, seperti penataan kalimat dan gaya menulisnya.

"Saya ingin pembaca belajar merelakan. Setiap yang hilang, pasti harus direlakan. Namanya juga hilang, mau dicari ke mana?" tuturnya.

Acara yang dilaksanakan dua jam itu dimulai pukul 14.00. Tidak banyak basa-basi, acara dibuka dengan kedatangan penulis buku, kemudian dilanjut dengan sambutan pihak Gramedia, sambutan pihak penerbit, dan selanjutnya diakhiri dengan sesi foto bersama dan berswafoto.

Rahmat Asmayadi
Penulis tinggal di Sidoarjo
rahmatelfikr@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved