Berita Kesehatan

Kiprah 24 Tahun Munajati Jadi Bidan di Bondowoso, ia Banyak Memberi Contoh Lewat Tindakan

Kiprah 24 Tahun Munajati Jadi Bidan di Bondowoso, ia Banyak Memberi Contoh Lewat Tindakan

Kiprah 24 Tahun Munajati Jadi Bidan di Bondowoso, ia Banyak Memberi Contoh Lewat Tindakan
Surabaya.Tribunnews.com/Sri Wahyunik
Selama 24 tahun sudah Munajati berkiprah sebagai bidan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. 

SURYA.co.id | BONDOWOSO - Selama 24 tahun sudah Munajati berkiprah sebagai bidan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur.

Perempuan itu memulai kiprahnya sebagai bidan di Desa Taal Kecamatan Tapen, Bondowoso selama empat tahun, dan 20 tahun menjadi bidan di Kecamatan Pakem. 

Kini Munajati menjadi Bidan Koordinator di Kecamatan Pakem, selain memiliki izin Bidan Praktik Mandiri (BPM) di rumahnya di Desa Patemon Kecamatan Pakem, Bondowoso

Sebagai salah satu bidan senior yang cukup lama berkecimpung di dunia kebidanan, ibu tiga anak tersebut memiliki segudang pengalaman, baik suka dan duka.

"Kalau bicara sukanya, banyak. Namun yang paling bahagia itu kalau berhasil menolong pasien dengan kasus darurat. Bahagia karena bisa menyelamatkan nyawa," ujar Bu Muna, panggilan akrabnya saat dikunjungi SURYA.co.id di tempat praktiknya di Desa Patemon Kecamatan Pakem, Bondowoso, Kamis (31/1/2019). 

Bidan Muna menceritakan, kondisi Desa Patemon 20 tahun lalu saat awal dirinya ditempatkan di desa tersebut. Dia menempati sebuah rumah di samping Puskesmas, tentu saja bukan rumah sendiri, dan ketika itu, Muna masih belum berkeluarga. 

"Kondisi 20 tahun lalu tidak seperti sekarang. Beda banget, baik kondisi desanya juga pemahaman masyarakat terhadap kondisi kesehatan, terutama ibu hamil dan balita," tutur Muna. 

Desa Patemon berada di daerah perbatasan Kabupaten Bondowoso - Kabupaten Situbondi di sisi barat. Desa yang asri itu berada di lereng Pegunungan Argopuro.  Menurut Muna, baru lima tahun terakhir pemahaman masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil dan bayinya terbangun. Salah satu indikatornya, warga secara mandiri mendatangi Bidan Praktik Mandiri (BPM) selama masa kehamilan dan kelahiran. 

"Untuk membangun kesadaran masyarakat seperti ini butuh waktu dan cara yang pelan dalam memberikan pemahaman kepada mereka, dan juga harus datang dari satu rumah ke rumah lainnya," kata Muna. 

Salah satu duka yang tidak bisa dilupakannya adalah ketika dia dirampok di awal menjadi bidan di Desa Patemon. Rumahnya disatroni perampok, dan sejumlah barang berharganya digondol. Meski tidak terlupakan, Muna menjadikan hal itu sebagai pelajaran berharga. Muna lantas memilih mendekati keluarga yang merampok rumahnya. Secara perlahan dan baik-baik, dia mendekati mereka supaya tidak menyalahi bidan baru yang ditempatkan di Kecamatan Pakem.

Halaman
1234
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved