Citizen Reporter

3 Etika Wajib Diketahui Para Pemburu Medali Maraton, Etika Ketiga Perlu Pikiran Cerdas 

Eko sempat memaparkan tiga etika yang harus diketahui peserta maraton. Tipsnya bermanfaat untuk mereka yang berniat mengikuti maraton.

3 Etika Wajib Diketahui Para Pemburu Medali Maraton, Etika Ketiga Perlu Pikiran Cerdas 
foto: istimewa
Eko Cahyono (38), salah satu pegiat literasi Malang yang hobi maraton. 

ADA hobi unik yang dimiliki Eko Cahyono (38), salah satu pegiat literasi Malang. Jika belum kenal, dia adalah pemilik Perpustakaan Anak Bangsa, Jabung, yang sekaligus telah mendapat berbagai penghargaan.

Karena aktivitasnya, ia diganjar penghargaan Nugraha Jasa Dharma (2010), Kick Andy Heroes (2010), Mutiara Bangsa Pendidikan (2010), Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi (2010), TBM Kreatif-Rekreatif Indonesia (2011), Pasiad Education Award (2012), Satu Indonesia Award (2012), MNC Pahlawan Indonesia (2012), dan masih banyak penghargaan lain. Itu semua karena kegiatannya di literasi.

Ia duduk mengenakan kaus merah ketika perbincangan hangat itu dilakukan. Hobi unik Eko saat ini adalah berburu medali. Sebenarnya itu bukan perkara baru. ia telah lama melakukannya.

Caranya adalah dengan mengikuti maraton. Biasanya setelah ia mengikuti maraton, satu medali akan ia bawa pulang.

Pada 2015, Eko mulai berfokus memburu sebanyak-banyaknya medali. Kegiatan di mana pun ia ikuti demi mendapatnya. Kadang-kadang untuk maraton ia harus ke wilayah yang asing dan sendiri selama perjalanan.

Pada 2018 saja, ia dapat mengumpulkan 35 medali. Total ia memiliki 92 medali. Semua dipasang untuk menghiasi sisi perpustakaan miliknya. Tidak semua yang ikut maraton mendapatkan medali, lho. Namun yang pasti, semua mendapat tambahan sehat.

Eko sempat memaparkan tiga etika yang harus diketahui peserta maraton. Tipsnya bermanfaat untuk mereka yang berniat mengikuti maraton.

"Jangan start di depan jika kamu bukan potensi podium," ucapnya, Selasa (30/1/2019).

Ia menjelaskan, jika memang bukan pelari, berada di depan akan menyulitkan diri sendiri karena pada akhirnya akan berada di urutan belakang. Belum lagi risiko tertabrak orang lain dengan jumlah peserta sekitar 1.000 hingga 3.000 orang.

Pesan berikutnya adalah membuang gelas plastik di tempat sampah. Ketika panitia menyediakan minum, mereka juga menyediakan tempat sampah.

Yang terakhir, pada lintasan maraton gunung akan terdapat banyak pelari yang cedera, keseleo, dan sakit lainnya. Terdapat dua pilihan yang bisa diambil oleh peserta maraton, "Membantunya atau meninggalkannya."

Eko mengikuti maraton lagi setelah ikut di Blitar (27/1/2019). Agenda lainnya adalah maraton pada 2 dan 17 Februari 2019 di Surabaya, 24 Maret di Malang, dan Juli di pegunungan Arjuna, Malang.

Khoirul Muttaqin
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang
khoirulmuttaqin15@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved