Berita Jember

Duh, Kematian Ibu Melahirkan di Jember Kembali Terjadi

Kematian ibu melahirkan kembali terjadi di Jember. Kasus kematian ibu ini diungkapkan oleh anggota Komisi D DPRD Jember, Siti Romlah

Duh, Kematian Ibu Melahirkan di Jember Kembali Terjadi
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | JEMBER - Kematian ibu melahirkan kembali terjadi di Jember. Kasus kematian ibu ini diungkapkan oleh anggota Komisi D DPRD Jember, Siti Romlah saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember di ruang Komisi D DPRD Jember, Kamis (21/2/2019).

RDP itu melibatkan sejumlah pihak yakni Dinkes, Dinas Sosial, BPJS Kesehatan, juga manajemen RSD dr Soebandi, RSUD Balung, dan RSUD Kalisat.

Peristiwa itu terjadi pada 10 Februari lalu, menimpa pada seorang ibu di Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas, Jember. Romlah menuturkan, ibu hamil itu diketahui menderita sejumlah penyakit saat memeriksakan penyakit jantungnya, di usia kandungan lima bulan.

"Awalnya dia mau memeriksakan penyakit jantungnya, ketika itu usia kehamilanya diketahui lima bulan. ternyata dia diketahui menderita penyakit anemia juga kekurangan energi," ujar Romlah.

Dalam proses perawatan, ibu hamil itu kemudian dirujuk ke RSUD Balung, dan kemudian dirujuk lagi ke RSD dr Soebandi. Namun beberapa hari dirawat, ibu hamil itu meminta pulang karena tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan dan tidak mengantongi Surat Pernyataan Miskin. Alasan biaya perawatan membuatnya memilih pulang.

Awal bulan Februari lalu, akhirnya dia melahirkan di sebuah rumah sakit di Lumajang melalui operasi sesar. Namun empat hari setelah melahirkan, ibu tersebut meninggal dan anaknya selamat.

"Saya melacak kasus ini, dan apa yang saya tangkap disini adalah, pertama data dan kondisi ibu hamil yang tidak tertangkap (diketahui) oleh bidan wilayah. Kedua, ketika tertangkap itupun karena memeriksakan diri, namun pelayanan yang didapatkan tidak maksimal, terutama untuk pelayanan mendapatkan SPM. Ketiga, adanya lost contact dengan ibu hamil ini," ujar Romlah.

Di Jember Ada Kematian Ibu Melahirkan, Terungkap saat di RS Korban Pulang Paksa karena Alasan ini

Karena itu, Romlah meminta supaya kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Romlah menegaskan, Kabupaten Jember masih disorot sebagai kabupaten dengan angka kematian ibu yang tinggi di Jawa Timur.

"Sementara salah satu tolok ukur kualitas kesehatan adalah angka kematian ibu. Dan ternyata angka kematian ibu di Jember ini masih tinggi, rangking satu di Jember," tegasnya.

Dia meminta Pemkab Jember serius dalam menangani persoalan AKI, juga memberikan pelayanan yang terbaik bagi ibu hamil.

Terkait paparan Romlah itu, Kepala Seksi Kesehatan Ibu Dinkes Jember, Lilik Lailiyah yang hadir di RDP itu mengatakan, semua informasi yang masuk akan diakomodasi. Dia juga menyebutkan semua informasi terkait ibu hamil di Jember selalu langsung ditangani.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jember Isnaini Dwi Susanti menegaskan pihaknya tidak pernah mempersulit warga yang mengurusi SPM.

"Itu sudah kerap kami sosialisasikan, termasuk kepada kepala desa dan perangkatnya. Pada prinsipnya kami sudah meminta supaya pelayanan didahulukan, jangan pernah mempersulit dan menolaknya," tegas Santi.

Perihal AKI di Kabupaten Jember ini pernah disinggung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Pada saat pelantikan Tim Pengurus PKK Jawa Timur lalu, Khofifah kembali menyinggung ini. Dia meminta supaya TP PKK terlibat dalam penekanan angka kematian ibu dan anak, juga stunting di Jatim.

Berdasarkan data angka kematian ibu di Jember tahun 2018 mencapai 33 kasus.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved